Apa yang (bisa) dilakukan jika lupa nama orang?

Pernahkah kita terjebak dalam situasi bertemu orang asing yang mengenal dan memanggil nama kita, sementara kita sendiri, OMG, malah blank sama sekali, alias gak inget namanya? Jika ya, mungkin ringkasan tips dari link ini bisa membantu.

  1. Mintalah alamat emailnya. Ini karena kebanyakan orang menggunakan nama atau bagian namanya pada alamat email mereka. Dengan mengetahui alamat email mereka, maka memudahkan anda untuk menebak nama ybs.
  2. Perkenalkan ybs pada seorang teman. Ini bisa dilakukan dan berharap dia bisa menyebutkan namanya.
  3. Menunggu hingga percakapan berakhir, lalu tanya pada teman anda. Jurus ini bisa dipakai dengan catatan jangan biarkan percakapan berlarut-larut, atau anda akan ketahuan sedang dalam kondisi amnesia :D
  4. Tanyakan cara mengeja nama mereka. Ini agak sulit, karena sebetulnya sih agak aneh juga meminta cara mengeja. Emangnya guru bahasa Indonesia, hehe.
  5. Mintalah kartu namanya. Dalam acara-acara formal, tentu ini bisa dilakukan dan akan sangat membantu di kemudian hari untuk terus mengingatnya.
  6. Akhiri percakapan dengan mengingatkan kepada ybs nama anda sendiri. Ini hanya berlaku dalam percakapan sangat formal. Misalnya, senang bertemu anda, nama saya bla-bla bla, dan nama anda, maaf siapa tadi…?
  7. Tanyakan arti nama mereka. Ini bisa dilakukan apabila percakapan mengarah pada situasi bercanda atau membahas arti sesuatu.
  8. Kreatif sedikit kenapa. Misalnya mengajak ybs untuk membandingkan foto di KTP atau SIM anda. Mungkin menyenangkan dan anda bisa mengintip namanya di kartu tersebut. Pastikan jari ybs tidak menutup namanya, hehehe.
  9. Jujurlah. Ini yang paling pahit dan berat dilakukan, tetapi jauh lebih baik daripada berpura-pura. Sampaikanlah dengan sopan dan juga permintaan maaf tentunya.

Kenapa saya share ini, karena baru aja mengalaminya beberapa waktu lalu. Gak bisa berpikir lagi saat itu dan hanya punya jurus nomor 9. :D

Saya Bukan Charlie, sekali lagi BUKAN!!

Malaikat Jibril pernah menawarkan diri untuk menghancurkan satu kota, hanya karena penduduknya mengolok-olok Nabi. Tapi Nabi menolaknya dan mengatakan bahwa mereka belum tahu.

Sejarah juga mencatat bagaimana sikap kasih sayang Nabi Muhammad SAW ketika setiap hari dihina oleh pengemis buta, tapi beliau tidak marah, padahal beliau adalah orang yg menyuapinya setiap hari.

Sejarah pula pernah mencatat bagaimana Rasul SAW menjadi orang yang pertama menjenguk seorang Yahudi yang lagi sakit, padahal dia adalah orang yang paling membenci dan memusuhinya.

Begitulah cara Islam menghadapi penghina Nabi. Bukan dengan pembunuhan atau terorisme. Islam mengajarkan kasih sayang, bukan kebencian. Bukan seperti Charlie Hebdo, ataupun seperti pembunuhnya.

#SayaBukanCharlie

Cerita dalam bis di awal tahun 2015

Membaca sekian puluh pesan berantai di BBM dan whatsapp [dan pesan sampah tentunya], ada sebuah kutipan penuh makna yang mengusik aku. Kira-kira seperti ini bunyinya:

“Tinggi hati mendahului kehancuran, rendah hati mendahului kehormatan”

Entahlah, mungkin sifat angkuh atau sombong ini adalah salah satu unsur dasar pembentuk manusia. Baik yang (mengaku) suci apalagi yang berkategori pendosa, sepertinya tidak lepas dari karakter arogan dengan levelnya masing-masing. Aku gak yakin kalau ada satu orang (saja) yang completely lepas dari sifat sombong ini. Setidaknya pernah terbersit satu atau dua detik dalam hati. #salahfokus1

Kembali ke ceritaku. Sore itu, atau tepatnya malam, karena sudah gelap, maklum di musim dingin malam lebih cepat merayap dan tentunya panjang, jam menunjukkan pukul 19.15an, aku segera turun dari lantai 10 tempat aku bekerja untuk menuju ke rumah. Thanks to aplikasi national express west midlands yang bisa dipakai untuk memonitor kedatangan bis, tidak harus android apalagi iphone, cukup di layar windows ku dengan bantuan bluestacks, semua aplikasi mobile yang diperlukan bisa dijalankan di layar laptopku. #salahfokus2

Dengan berlari kecil, aku menuju ke halte bis langgananku. Kira-kira 100 meteran terlihat bis dari arah berlawanan ternyata sudah datang, OMG, maka kupercepat langkahku, agar bisa mengejar bis itu. Sia-sia, bis itu melewati halte tanpa berhenti. Dengan sedikit memaki-maki, aku merutuki kesialan ini, karena harus siap-siap menunggu 30 menit lagi untuk kedatangan bis berikutnya. Dengan sedikit putus asa aku setengah berteriak dan kulambaikan tanganku, berharap semoga si supir melihat aku, di tengah-tengah gelapnya Vincent Dr Road. Dan ternyata si supir bisa mengenaliku, (langganan sih), dan serta merta memberhentikan bisnya. Tentu ini sebetulnya melanggar ketentuan dan tidak lazim sebuah bis di Inggris mau berhenti di sembarang tempat (bukan di halte), hanya untuk mengangkut seorang penumpang. #Atuh da aku mah apa….Tanpa melihat lagi kartu langgananku, si supir nan ramah itu segera mempersilahkan aku masuk dan segera memacu kembali bisnya. “Thank you.so much mate, Happy New Year” sapa ku dengan riang.

Turun di Bearwood, seperti biasa aku transit berganti bis yang akan mengantarkanku ke rumah. Di halte datang seorang laki-laki paruh baya dengan jaket tebal dan baret khas musim dingin membawa anjing pudel. hampir setiap orang di halte dengan ramah menyapa… anjingnya, bukan tuannya. Inilah bentuk interaksi sosial di sini. Ketika di indonesia orang menyapa anak-anak atau bayi sebagai ekspresi keramahan kepada orang dewasanya, maka di sini orang terbiasa menyapa sang anjingnya. :)

Begitu bis yang ditunggu datang, semua mulai antri masuk bis, begitu pula laki-laki tadi yang dengan sigap segera memangku anjingnya. Sambil menjilat-jilat muka tuannya, anjing itu terlihat manja sekali. ternyata bisnya kosong. Di dalam ada seorang penumpang laki-laki lain yang duduk persis berseberangan dengan kursiku. Kelihatan dia sedang asyik memilin-milin tembakau dalam kertas rokok, nampaknya untuk disiapkan dihisap begitu turun dari bis. Di sini memang pemandangan perokok membuat rokoknya sendiri sudah biasa. Maklum harga rokok yang sudah jadi dalam bentuk batang sangat mahal. Ah, mind your own business, pikirku. Urusan dia lah, mau merokok atau nyungsep di kolong jembatan. Itu kan masalah pilihan. Yang penting tidak saling mengganggu kepentingan orang lain. Ini mungkin salah satu dari sedikit kelebihan (sedikit ya) dari tinggal di negara yang memberikan kebebasan individual, tapi tetap menghargai privasi individu lainnya.

Begitu sampai di City Rd, aku turun dari bis, ketika hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan, disertai suhu membeku mulai menyergap. Kunaikkan kerah jaketku, kueratkan syal yang membelit leher dan segera berjalan cepat-cepat menuju rumah. Hanya satu tujuanku malam itu. Ubi dan susu hangat yang terhidang di meja, sambil berbagi cerita hari ini dengan istri dan anak-anak.

Birmingham, 7 Januari 2015.

2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 20,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

A stereotyped world

Once I came across a video on Youtube telling me about stereotyping Australian, and what surprised me most, and I’ve never had any idea before were, that Australian was stereotyped “dumb”, “drunk”, and “racist”, those that never appear to my, at least, Australian friends I met somewhere else outside Australia. In fact I’ve never been in Australia, not even in a transit. The only amazed me about Australia (from internet so to speak), is probably the Opera Sydney house, where some of my friends arrogantly uploaded their pictures with it on social media. But recently I am a fan of reality show called “Australian border security” where the immigration officers have their stories told on TV/internet. Apart from those, I don’t give a crap.. :)

Let’s forget about this Oz stuff, I surfed the other typical stereotyping perspective on internet, and found many interesting facts, particularly when it comes to my homecountry, Indonesia, which is mostly stereotyped in similar way to those of other Asian countries. There are some exceptions, when the perspective comes from other nations, or particular individual. Hope you enjoyed what I have found.

s1

Screenshot of the video

Look what Australian think about Indonesia, and apparently they put “nasi goreng” in the first place. It’s a rather “civilized” anyway if you compare to what they think about other regions, e.g. Middle East and Africa which are quite harsh to me, war and famine? c’mon there must be something better and nice about them….

s2

This is what Americans think about us

 

Now, look what’s American think about us. Obama is a very quick eye-catching word, isn’t it, and it is exactly the word that explains Indonesia to common American’s minds. What about their own homeland? they said it’s awesome.. soo predictable, nothing else in this world would as awesome as them… they thought!!

s5

Something unthinkable, but nice

 

I found this picture from a web, and I didn’t read through the story, but the picture is actually interesting and talking itself. I like this one, not because my country is perceived a nice place for honeymoon, but the way they illustrate is so catchy, well done for a stereotyping job

s8

Alcoholic have a say

 

Frankly speaking, this is the worst stereotyping set I came across, not only because the drunk people have no brain (uppsss), but also the way the draw the map is so ugly, I would say…, but to be fair with them (the drunk), I think these stereotyping words are pretty much picturing the reality of some parts of this world.. too bad huh

s9

This is a kind of stereotyping by the ignorant, where they see the world from a very small window and narrow minded, steered by mainstream media, and never read a single book but drink alcoholic stuff.., everything is only for fun when you’re drunk, right guys?

Anyway, if you found your country stereotyped, my advice is, don’t take it seriously, nothing serious about it. There are a lot more pictures actually, but I don’t wanna comment on them, you can also find them easily on google. Those pictures’ copyrights belong to the original owner.. not me. I don’t make any money from those, just wanna share for fun :)

 

Supervisory meeting

Sudah menjadi agenda rutin bagiku dan supervisor untuk mengadakan rapat bimbingan setiap bulannya, baik itu ada update ataupun hanya sekedar ketemu. Seperti biasa pula aku selalu menyiapkan sesuatu, setidaknya bahan untk diskusi di meeting tersebut. Ini adalah meeting yang entah ke berapa dengannya. Lebih tepatnya sih disebut ngobrol, karena peserta meeting cuma aku dan supervisor, sementara co-supervisor jarang nongol. Tapi sekalinya nongol hanya diem memenuhi kewajiban duduk di kursi yang sudah disediakan.

Besok adalah meeting untuk progress bulan November 2014. Ada target yang harus diselesaikan sebelum bulan ini berakhir. Tapi apa daya, kemampuanku dan motivasiku menurun drastis dua minggu terakhir, sehingga aku agak pesimis kalau itu bisa tercapai (berdoa dimulai)…. #sigh

Hari ini tadinya dikhususkan untuk persiapan meeting. Sejak pagi aku sudah menyiapkan mental untuk pekerjaan berat dan membosankan. Tapi cuaca bener-bener tidak ramah. Dengan suhu di bawah nol di pagi hari, kakiku rasanya malas melangkah keluar hanya untuk mengejar bis untuk berangkat ke tempat kerja. Hari berkabut dan sedikit gerimis, menambah dukungan bagiku untuk menikmati kehangatan ruangan dan tidak melakukan aktivitas apapun. Pemalas juga nih…

Tiba-tiba hapeku berbunyi, ternyata ada chat di grup wa, membahas topik zakat, dan itu menarik (bagiku) diikuti, dengan sesekali memberi komentar iseng. Inti diskusi, menjelaskan bahwa zakat wajib disalurkan apabila harta tidak produktif kita sudah mencapai nisab. Sementara harta produktif, yang dipakai sehari-hari tidak dikenai hukum zakat. Ada sedikit pengecualian untuk harta berbentuk emas atau perak, di mana terdapat silang pendapat mengenai apakah perhiasan yang dipakai jga dikenai zakat atau tidak. Akhirnya forum bersepakat bahwa amannya semua dizakatkan saja, dengan catatan telah memenuhi ketentuan nisab. Persoalannya adalah bahwa standar nisab yang dipakai bisa emas atau perak. Karena harga emas lebih mahal dari perak, maka disarankan untuk menurunkan standar nisab atau tresholdnya dengan mengambil standar perak saja, yaitu seharga 595 gram perak atau 200 diirham. Selain alasan keamanan syar’í, juga untuk kemaslahatan umat ang lebih luas.

Kembali ke supervisory meeting, entahlah, besok jadwalnya jam 11.30, mudah-mudahan berjalan normal deh. Ini mata bener-bener seperti mogok kerja, sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Kopiii mana kopiii….

Ketinggalan Bis mirip Spongebob dan Mr Bean

Pernah nonton film animasi Spongebob atau Mr Bean, yang memperlihatkan kelucuan saat mereka ketinggalan bis. Setiap kali mereka meleng dari halte bis, seketika itu juga banyak bis yang lewat, tapi begitu mereka memelototinya, tidak satupun bis yang datang. Sampai sekarang pun saya masih suka tertawa menonton bagian dari film itu, walaupun berulang-ulang. Lucu memang, mungkin karena karakter kita (eh saya) yang suka mentertawakan penderitaan orang (penderitaan Spongebob dan Mr Bean maksudnya).

spongebob

Adegan lucu ketika Spongebob saat meleng sedikit, hendak membeli permen, saat itu bis datang (sumber foto https://pbs.twimg.com/media/Brfhe0yCUAAqirG.jpg)

mr bean

Mr. Bean yang bosan menunggu bis (sumber foto http://www.clickthecity.com/img2/articles/CTC-1696-image5.jpg)

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kejadian mirip benar-benar menimpa saya semalam. Dalam suasana menjelang gelap dingin menusuk, karena temperatur sudah menurun ke kisaran 5 derajat, saya menunggu bis ke arah city centre, yang biasanya banyak. Setelah menunggu hampir 15 menit di halte Bristol Rd, akhirnya saya memutuskan menggunakan jalur sebaliknya dan menyeberang, karena nampaknya beberapa bis lebih banyak yang lewat.

Begitulah kisah ini dimulai. Menit demi menit pun berlalu, tidak satupun bis yang nongol, sampai memasuki 15 menit yang kedua, tiba-tiba muncullah bis, tapi dari arah yang sebelumnya ditunggu, bukan satu, tapi tiga sekaligus. Mau nyebrang lagi, tahu sendiri jalanan Bristol lebarnya seperti apa, rame pula. Akhirnya mencoba bersabar dan menunggu siapa tahu bis ke arah Frankley akan datang cepat. Alih-alih datang, yang ada justru bis jurusan city centre (yang sebaliknya) malah kembali muncul, tidak tanggung-tanggung, dua sekaligus. Kembali dalam hati menggerutu. Akhirnya setelah 5 menit berlalu, dari kejauhan kelihatan ada 2 bis lagi yang datang dari arah berlawanan, dengan menguatkan tekad, berlarilah saya menyeberangi jalan yang rame itu. Namun apa lacur, begitu mendekat, ternyata kedua bis itu “Not in Service”!!!.

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, demikian yang bisa digambarkan yang terjadi kemudian, karena begitu saya memalingkan muka untuk melihat bis di arah sebaliknya lagi, datanglah dua bis yang ke arah Frankley!!, dalam posisi saya sudah menyebrang !!! OMG, benar-benar sebuah drama penantian yang memilukan. Saya benar-benar meratapi nasib, dipermainkan bis gara-gara (entah) kemacetan jalanan Birmingham atau karena lainnya. Lengkap sudah penderitaan saya karena terlambat pulang ke rumah sampai 1,5 jam, sehingga melewatkan makan malam dengan anak-anak. Lalu teringatlah saya akan adegan Spongebob dan Mr Bean yang selama ini selalu saya tertawakan. Karma? enggak juga, karena saya gak percaya karma. Memang sudah dari sononya saya harus ketinggalan bis dengan cara konyol ini, sekonyol Spongebob dan Mr. Bean.

Finally got home, my eldest son frowned at me, “what took you so long Ayah?”, I was speechless. said nothing, and just grabbed my hot “candil” or “biji salak” prepared by my hon. Hmmm, what a night, what a day.

IMG_0683

Biji salak hangat penghibur malam yang “sial”