Kebun Raya Cibodas

Menghabiskan 4 tahun di Inggris membuat keluarga kami sudah sangat terbiasa dengan kegiatan bermain di taman umum. Di Birmingham, tempat kami tinggal, terdapat sejumlah taman yang luas, nyaman, dan tentunya gratis. Beberapa yang terdekat dari rumah yang biasa kami kunjungi misalnya Victoria Park, Summerfield atau Lightwood Park. Salah satu yang agak jauh adalah Beacon Hill, di mana kami harus mencapainya terlebih dahulu dengan bis. Reportasenya pernah ditulis di sini.

Akhir Februari 2016, saatnya bagi kami untuk kembali ke tanah air. Setibanya di tanah air, salah satu tujuan kami adalah berlibur dan mencari tempat dengan suasana alam yang sepi, seperti taman-taman di Inggris. Dengan pilihan yang jauh lebih terbatas, kami memilih dua taman yang layak dikunjungi, yaitu antara Kebun Raya Bogor atau Kebun Raya Cibodas. Singkat cerita kami pilih Cibodas, selain lebih luas, juga kontur pegunungan menjadi kelebihan kebun raya ini daripada yang di Bogor.

Berangkat dari rumah jam 6 lewat, kami langsung memacu mobil memasuki tol JORR dan sampai di Jagorawi masih pagi sekali. Sayangnya begitu keluar pintu Ciawi, kami terkena penutupan jalur Puncak, dan harus menunggu kurang lebih 2 jam. Jadilah kami parkir massal di jalan Tol, sesuatu yang hanya bisa terjadi di Indonesia.

IMG_0804[1]

Parkir massal menjelang perempatan Ciawi arah Puncak, Maret 2016

Setelah jam 9, kami diijinkan untuk memasuki kawasan Puncak, dengan pengaturan lalu lintas satu arah. Diawali sirine polisi dan kibaran bendera mirip start balapan, kami langsung tancap gas berlomba memasuki jalur Puncak.

Kebun Raya Cibodas terletak di Cipanas, Cianjur. Tepatnya di daerah Cimacan. Jadi kalau anda menuju ke sana, pastikan tidak melewati kota Cipanas apalagi Istana Cipanasnya, karena sudah pasti itu kelewatan. Dan itu yang terjadi dengan kami.😦. Ini semua berkat papan penunjuk minim, ngirit GPS dan tentunya memori kami yang samar-samar.

Memasuki kawasan kebun raya, kami melewati pintu gerbang dengan beberapa petugas yang menyebut tarif retribusi dengan total Rp. 20.000,-. Nampak sebagai sebuah angka yang sangat murah, atau setara £1 saja. Begini rinciannya:

IMG_0885

Retribusi parkir mobil

IMG_0884

Retribusi mobil

IMG_0882

Retribusi pengunjung

Sampai di sini aman. Semua nampak normal dan masuk di akal. Begitu masuk ke dalam kami mendapati suasana begitu ramai dan sesak. Namun yang mengagetkan kami, ternyata mobil tidak boleh masuk kawasan kebun raya dan disuruh parkir di tempat. Jadi setiap weekend, mobil pribadi tidak bisa masuk kawasan kebun raya. Catat tuh. Akhirnya kami parkir di salah satu area dekat pintu 1. Coba tebak, kami kembali dikenakan tarif parkir, kali ini besarnya adalah …. jreng

IMG_0883

Tarif parkir kedua kami😥

Kami tidak mempermasalahkan besarnya. Bagaimana pun uang Rp. 10.000,- mungkin tidak lebih besar dari uang jajan anak-anak. Yang kami heran, kenapa bisa kena tarif parkir dua kali? Tapi kami masih berusaha memaklumi keheranan ini.

Memasuki kawasan kebun raya, kami kembali harus melewati pintu masuk (lagi) dan kali ini dikenakan biaya masuk per orang sebesar ….

IMG_0808[1]

Nah ini tarifnya, silahkan dibaca😀

Oke, mari lupakan keusilan kami atas remeh temeh ini. Jadi, sebetulnya mengunjungi kebun raya ini, anda akan berhubungan dengan (baca: membayar) setidaknya 3 ‘penguasa’: pertama pemda, kedua komunitas lokal dan ketiga pengelola kebun raya. Kami pun tidak bermaksud rewel dengan semua pembayaran berlapis ini. Tidak ada yang gratis di Indonesia. Mungkin yang perlu dilakukan oleh para pihak ini baik itu pemerintah setempat, pengelola kebun raya dan komunitas lokal untuk duduk bersama dan menata tiket dan perparkiran ini menjadi lebih elok (lah), misalnya satu pintu, kalau perlu online!.

Setelah dengan segala rintangan ini (exaggerating), tiba lah kami di dalam kebun raya, segera melupakan kelelahan fisik dan psikis ini dan bersiap menikmati menyantap makan siang yang hangat.

IMG_0814[1]

Pose jagoan neon

IMG_0855[1]

Salah satu sudut kebun raya

IMG_0861[1]

Pemandangan segar di dalam kebun raya

Oleh karena mobil tidak bisa masuk, maka kami menjelajah kebun dengan berjalan kaki. Sebenernya ada bis gandeng yang lalu lalang di dalam, namun kita di haruskan untuk menambah bayar, sekitar Rp. 8.000,- kalo tidak salah. Bagi yang tidak kuat napas, sangat dianjurkan untuk menggunakan jasa mobil ini. Percayalah, melelahkan!.

Bila Usia Telah Sampai 40 tahun

Forward pesan berantai hari ini:

Allah Ta’ala berfirman :

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa : “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Al-Ahqaf : 15).

Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya…

Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan, semakin memperbanyak bersyukur…

Bila usia 40 tahun, maka meningkatnya minat seseorang terhadap agama, sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Dimana banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia…

Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karir dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas “…dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…”

Bila usia 40 tahun, maka akan sulit dirubahnya kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, mungkin meninggalkan shalat, berzina dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut…

Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna…

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka”

Masyaa Allah
Na’udzu mindzalik,

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab :

“Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah”

Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata :

“Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan sholat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya” (Ihya Ulumiddin IV/410).

Imam Malik rahimahullah berkata :

“Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasinya untuk meningkatkan ibadah dan ilmu)” (At-Tadzkiroh hal 149).

Muhammad bin Ali bin al-Husain rahimahullah berkata :

“Apabila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka berserulah penyeru dari langit : “Waktu berpulang semakin dekat, maka siapkanlah perbekalan”

An-Nakha’i rahimahullah berkata :

“Sebelumnya mereka menggapai dunia, di saat menginjak usia 40 tahun mereka menggapai akhirat” (At-Tadzkaroh al-Hamduniyah VI/11).

Wahai saudaraku, lalu bagaimana dengan dirimu ?

Wallahul Muwaffiq
Hadanalloh

Beacon Hill, puncaknya Birmingham

IMG_20150926_164530

Tidak terasa 4 tahun sudah berlalu. Menjelang berakhirnya masa tinggal kami di Birmingham, saya dan istri sibuk mencari informasi menjelajah pelosok kota yang kira-kira layak dikunjungi sebelum kami benar-benar meninggalkan kota eksotik ini dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu yang mencuri perhatian kami adalah Beacon Hill, sebuah bukit yang menjadi salah satu titik tertinggi di kota ini, bahkan di seantero West Midlands, dengan ketinggian 237mdpl atau 778ft. Tidak terlalu tinggi memang untuk ukuran kita di Indonesia. Namun tetap saja ini menjadi yang ‘sesuatu’ bagi kami.

Untuk menuju ke sana, kami harus menumpang Bis no 45 atau bisa juga 98 (lebih direkomendasikan) dari city centre, dan turun tepat di sekitar Lickey Hill atau Crofton Park. Perjalanan bis memakan waktu 40-60 menit dari pusat kota. Jadi lumayan jauh. Suasananya sudah terasa seperti di pinggiran kota yang menyajikan pemandangan khas country side-nya Inggris. Sayangnya memang setelah dari halte bis menuju Beacon Hill tidak ada moda lain selain jalan kaki, selama kurang lebih satu jam.

IMG_20150926_164336

Prasasti kastil

IMG_20150926_171106

Ngoboy bentar

Dengan memanfaatkan GPS di HP, akhirnya kami berhasil melalui rute yang cukup berat ini. Setelah melalui rute perumahan penduduk, naik turun bukit, melintasi padang golf, dan terakhir memanjat tebing dengan kemiringan hampir 45 derajat, maka sampailah kami di puncak bukit. Di sini kami bisa menyaksikan pemandangan kota Birmingham secara utuh, termasuk sebagian wilayah West Midlands.

Sebagai informasi, bukit ini merupakan hadiah dari keluarga Cadbury kepada Pemerintah Kota Birmingham pada tahun 1917. Keluarga Cadbury merupakan salah satu keluarga terpandang, sebagai bagian dari perintis industrialisasi di Inggris, yang salah satunya terkenal dengan produk coklatnya. Untuk menandai hibah ini, maka dibangun kastil kecil yang cantik, setinggi 2 meteran, persis di puncak bukitnya.

Cambridge, hanya untuk orang jenius?

Di penghujung liburan musim panas 2015 ini, kami sekeluarga melakukan trip singkat ke Cambridge, yang terletak di sebelah utara kota London. Dikenal dengan salah satu universitas paling tersohor sejagat, Cambridge lebih banyak memberi kesan sebagai kota pelajar atau kotanya orang pintar, terutama bagi yang belum pernah berkunjung ke sana. Padahal kota ini juga merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Inggris ini.

Seperti biasa kami selalu mencari tiket super murah jauh-jauh hari dengan bantuan situs trainline. Tentunya rute perjalanan menjadi agak aneh dan rumit, sebagai bentuk trade-off dengan harga murah tadi, hehe. Perjalanan di mulai dari Birmingham New Street, dengan menumpang Virgin train, kami menuju ke Euston di jantung kota London, lalu transit lewat tube ke King’s Cross St Pancras. Dari stasiun inilah kami lalu mengambil kereta First Great Northern menuju Cambridge dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Tiba di stasiun Cambridge, kami langsung menuju keluar, dengan harapan menemukan brosur atau peta gratisan. Sayangnya ternyata itu cuma ada di dalam peron, Karena kami terlanjur keluar stasiun akhirnya kami membaca peta yang ada di depan stasiun. Di situ terlihat tujuan city centre dengan petunjuk 20 menit jalan kaki. Well, di Eropa, 20 menit adalah waktu yang dianggap sangat “walkable”, sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja. 10 menit berlalu, nafas pendek tipikal orang Asia kami mulai menampakkan aslinya, ngos-ngosan. Akhirnya kami mendekati halte bis yang terletak di jalan yang kami lalui, lalu mulai membaca petunjuk nomor bis dan waktu kedatangan.

IMG_4392

King’s College, pose dengan tour guide dadakan kami yang baik hati

Setelah kebingungan membaca petunjuk, akhirnya kami bertanya pada seseorang yang juga baru menghampiri halte. Eh, rejeki tidak lari kemana, dia malah menawarkan diri untuk mengantar kami ke tempat tujuan kami yang pertama yaitu The Backs dengan berjalan kaki (lagi). Tour guide dadakan kami dengan senang hati menawarkan untuk mengantar kami ke tempat2 yang biasa dituju turis di kota ini. Setelah lama berbincang ternyata dia orang Perancis yang telah tinggal 15 tahun di Cambridge. Seorang Professor di bidang Kriminolog yang tidak bisa kembalii ke Perancis, hanya karena bidang studinya tidak laku di sana, candanya. Namanya Naomi, a very nice and friendly lady.

IMG_4401

Satu-satunya group picture selama trip, di depan Trinity’s College, thanks to our new friend who took it

Menyusuri kota Cambridge ternyata cukup dilakukan dengan jalan kaki. Kotanya memang relatif kecil. Kami menyusuri jalan Hill’s Road (kalau gak salah) lalu setelah 20 menitan sampailah di King’s College, salah satu college ternama di lingkungan University of Cambridge. Cerita Naomi, saat ini terdapat 31 college yang tersebar di seluruh Cambridge, dan King’s college ini adalah salah satunya yang paling dikenal. Menyusuri jalanan yang sama, kami juga melewati beberapa college lainnya, entah apa namanya, saking banyaknya, Catatan, setiap college mempunyai chapel sendiri-sendiri, entah apa sebabnya. Naomi sendiri bingung kenapa harus begitu. Untuk masuk college2 ini kita kudu bayar tiket. Selain itu ada pusat belanja, menara Great St Mary’s church, toko pastry, sampai pasar seni yang semua  dilalui dalam satu jalur perjalanan kami.  Kami pun sampai di penghujung jalan di mana ada satu college yang direkomendasikan Naomi untuk dilihat, namanya Trinity’s college. Bangunan bata merah yang khas Inggris dengan arsitektur gothik(?) sangat cantik untuk dilihat dan dinikmati.

Sampai di ujung cambridge river, kami berpisah dengan guide sukarela ini. Tidak lupa mengucapkan beribu terimakasih tentunya. Terakhir Naomi menunjukkan tempat punting tour, yaitu menaiki perahu atau cano menyusuri cambridge river dengan pemandangan klasik Cambridge. Sebenarnya sepanjang jalan pun para penjaja punting tour ini banyak bertebaran yang selalu sigap menawari siapapun yang lewat. Harga yang ditawarkan kepada kami £47 untuk satu keluarga, 2 dewasa dan 2 anak. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Sangat menyenangkan, dengan pemandu yang komunikatif (nampaknya sudah biasa dan sangat terlatih). Satu perahu kami bersama-sama dengan turis dari Perancis, Italia, Inggris dan tentu saja kami dari Indonesia, Itupun jadi tahu karena diabsen satu per satu sama pemandu, hehe.

IMG_4417

Punting tour, dengan (kebetulan) cuaca yang cerah

Catatan, kalau memang ingin mengikuti punting tour, sangat disarankan untuk mengambilnya pagi-pagi. Menjelang siang dan sore, lalu lintas di sungai akan menjadi padat dan tidak lagi menyenangkan. Beruntung kami langsung memesan punting tour ini segera setelah disarankan teman baru kami itu. Setelah puas dengan punting tour, kami menuju ke taman terdekat untuk melepas lelah dan makan siang. Menu sushi (sebetulnya lebih tepat disebut kimbap) yang disiapkan dari rumah dengan cepat kami lahap dan ludes. Hanya anak-anak yang agak manyun, karena mereka lebih suka jajan daripada menu rumahan.

IMG_4470

King’s College tampak dari perahu punting tour

Setelah melepas penat, kamu menuju museum Fitzwilliam yang terletak di jalanan menuju kembali ke stasiun. Musium ini gratis terbuka untuk umum. Di dalamnya, seperti kebanyakan musium di Eropa, lebih banyak bercerita peradaban Eropa yang sarat sejarah kristiani dan nudisme. Nudisme? ya sebut saja demikian, karena hampir di seluruh pojok ruangan musium, diletakkan patung-patung dewa yunani dan lukisan yang rata-rata polos tanpa busana. Hadeuuh.

IMG_4643

Salah satu karya seni mereka yang “menakjubkan”

Tidak terasa, hari sudah sore beranjak malam. Kami pun segera bergerak menuju stasiun, setelah sebelumnya menyempatkan makan malam di Parker’s Piece dengan membeli nasi biryani, samosa dan tentu saja chicken and chips kesukaan anak-anak. Selama menikmati hidangan, kami pun mendapat koneksi wifi dari The Cloud, sebuah layanan koneksi gratisan yang bisa didapatkan di beberapa tempat umum, di kota-kota Inggris. Dengan menumpang kereta Cross Country, kereta kami melaju menuju Birmingham pada pukul 7 malam, kali ini tidak melewati London, tapi melingkar lewat rute utara melalui Peterborough dan Leicester, sebelum tiba kemudian di New Street menjelang pukul 10 malam.

Berkunjung ke Irlandia

Dibandingkan dengan Belanda, Inggris, Jerman atau Perancis, Irlandia jelas bukanlah negara Eropa yang menjadi tujuan favorit sebagian besar pelancong. Minimnya publikasi Irlandia di tengah himpitan popularitas negara-negara tetangganya menyebabkan negara ini seolah tidak terbaca dalam peta wisata Eropa. Terletak di pulau terpisah dari Eropa daratan, terpinggirkan di sisi paling barat benua biru ini menyebabkan Irlandia secara geografis pun menjadi kurang menguntungkan. Negara ini berbatasan langsung dengan Northern Ireland yang merupakan bagian dari United Kingdom, atau Inggris (dalam kosakata resmi Indonesia).

Padahal setidaknya Irlandia merupakan negara asal banyak artis kaliber dunia seperti penyanyi Ronan Keating atau aktor tampan Pierce Brosnan. Irlandia bahkan boleh juga disebut sebagai ibukota boyband dunia yang banyak melahirkan grup musik, sebut saja Boyzone, Westlife, U2 atau Bono. Lebih dari itu, sejarah Amerika Serikat pun salah satunya dibangun atas kontribusi imigran dari Irlandia. Tidak heran kalau musik country agak mirip-mirip dengan musik Irlandia.

IMG_3180

Sarana transportasi di dalam kota

Keunikan lain, orang Irlandia mempunya dialek atau bahasa sendiri yang berbeda dari bahasa Inggris yang kita kenal. Begitu mendarat di bandara Dublin, anda akan disuguhkan dua versi bahasa dalam setiap papan pengumuman atau petunjuk jalan, Gaelic dan English.

Visa

Untuk memasuki Irlandia, kita memerlukan visa (viosa) yang dikeluarkan oleh kedutaan Irlandia. Bagi pemegang visa UK, aplikasi dilakukan secara online, dan dilanjutkan dengan melengkapi dokumen ke kantor pelayanan visa di 114a Cromwell Road, London. Lokasinya dekat dengan stasiun tube Gloucester Road, yang dilayani Circle dan Piccadilly line. Beruntung bagi pemegang visa UK dari Indonesia, aplikasi ini tidak dikenakan biaya, alias gratis.

Cukup lengkapi dokumen seperti paspor, kartu keluarga atau surat nikah (yang sudah diterjemahkan), rekening tabungan tiga bulan terakhir dan surat undangan atau bukti booking hotel. Persyaratan dokumen ini tidak ketat, bahkan kalaupun ada yang kelupaan, anda masih bisa menyusulkannya, sementara visa akan tetap diproses sebagaimana biasa.

Tujuan Wisata

IMG_2977

Komplek pemakaman dengan ciri salib khas bangsa Celtic dengan lingkaran, Glendalough

Kunjungan saya dimulai dengan menyusuri pegunungan Wicklow atau Glendalough. Sayangnya cuaca yang sangat Inggris atau mendung kelabu menyapa saya selama kunjungan berlangsung. Mirip dengan wisata di puncak, kita disuguhi suasana hijau pegunungan dengan kontur pegunungan yang sangat khas Irlandia. Sesekali kita berpapasan dengan padang gembala yang dihuni ratusan “shaun the sheep”.

IMG_3278

Malahide castle

Saya juga menyempatkan diri mampir ke salah satu castle khas Britania yang tidak jauh dari jantung kota Dublin, yaitu Malahide. Khusus untuk masuk kastil ini harus bayar, Tapi bagi yang hanya mau berfoto-foto saja bisa masuk di halaman kastil yang luas dan tentu saja gratis. Anak-anak dapat bermain di playground yang cukup luas, sementara ibu-ibu bisa memanjakan mata di pusat penjualan souvenir Avoca. Parkirnya gratis.😀

IMG_3126

O’Connell’s, salah statu sudut kota Dublin


IMG_3246

Temple Bar, salah satu sudut paling ikonik kota Dublin

Pusat kota Dublin juga merupakan tempat yang tidak boleh dilewatkan. Menyandang status sebagai sebuah ibukota negara, kota ini sebenarnya tidak lebih rame dari Bandung. Suasana kota tidak banyak dihiasi gedung pencakar langit layaknya kota modern, selain dipenuhi bangunan-bangunan khas Eropa yang memang unik.

IMG_3357

Howth, salah satu pelabuhan untuk kapal nelayan


IMG_3331

Menara mercusuar Howth

Howth adalah kesempatan terakhir saya di hari ke-empat untuk menikmati sinar matahari untuk pertama kalinya. Sebuah pantai atau tepatnya pelabuhan yang dipenuhi dengan ratusan kapal nelayan yang bersandar. Gratis dan anda akan disuguhi pemandangan laut yang estetik. Pantai tanpa gelombang tinggi dengan menara mercusuar yang kokoh di ujungnya menjadi pemandangan yang eksotis. Camar sebesar ayam menjadi pemandangan biasa, bergerombol dalam beberapa tempat, dan sesekali memenuhi jalanan, tanpa memperdulikan mobil yang lalu lalang. Saya menyukai Howth, karena faktor cuaca dan kebersihannya. Padahal seumur-umur saya tidak pernah suka pinggir pantai.😀

 

My favorite pic this April

  

Taken by a nice stranger I met there, With my own camera, and then edited by me using a very basic technique of photo editor. Anyway it’s the telephone box and the big ben (of course)