tangisan anak kecil

di perjalanan ke rumah sepulang kantor, sewaktu di lampu merah, seorang bocah usia 3 tahunan menangis di trotoar pinggir jalan, dipaksa (mungkin) kakak-kakaknya untuk terus jalan di bawah guyuran hujan.. kelihatannya mereka anak-anak pengemis yang baru pulang “kerja”.. sedih dan terenyuh melihatnya.. anak seusia itu harus bekerja mempertaruhkan nyawa hanya untuk bertahan hidup..
anak-anak itu terus berjalan.. sementara si kecil terus menangis.. mungkin lapar.. mungkin cape.. tapi mereka tidak sedang meratapi pahit dan kerasnya kehidupan mereka.. bagi mereka cukup dapat uang untuk makan atau jajan.. itu sudah cukup..
atau boleh jadi.. mereka korban pemaksaan kelompok preman tertentu yang memaksa mereka untuk mengemis..
tapi apapun motifnya.. fakta menunjukkan bahwa di usia sedini itu.. mereka harus bekerja untuk bertahan hidup..

di rumah, si gia & si fari juga nangis.. tapi tangisan mereka bukan tangisan kepedihan hidup.. bukan tangisan karena tidak makan, atau cape kelelahan bekerja.. mereka menangis karena mereka anak kecil.. sebuah atribut anak kecil yang sangat wajar melekat.. di mana pun.. anak kecil memang menangis.. bisa karena manja.. bisa karena minta diperhatikan.. atau bertengkar.. yang jelas tangisan mereka masih terjadi di tengah-tengah kehangatan kehidupan keluarga.. di dalam rumah yang nyaman tanpa guyuran hujan.. atau perut yang kosong..

keduanya jelas tangisan yang beda.. itu mungkin sebabnya kita harus selalu mensyukuri keadaan kita.. apapun keadaannya.. Nuhun Gusti.. tina pirang-pirang kanikmatan anu parantos di lungsurkeun ka sadayana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s