Macet, like it, be part of it, bcoz you have no choice for the time being

Sore itu kendaran merayapi Thamrin Sudirman seperti biasa, rush hour lah. Jakarta dengan segala bentuk kemacetannya sudah menjadi rutinitas keseharian yang “anehnya” sangat ditolerir oleh warganya. Well, diskusi tentang kemacetan tidak akan ada habisnya. Akar masalahnya sudah jelas, selain volume kendaraan yang terus meningkat, kapasitas infrastruktur jalan yang tidak memadai, perilaku pengendara yang tidak disiplin, sampai kebijakan yang tidak bertaji. Segudang akar masalah itu seperti benang kusut yang tidak pernah diurai oleh pengambil keputusan. Entah apa yang ada di benak para pimpinan itu.

Foto ini diambil dengan kamera HP biasa, jadi jangan berharap kualitas gambar yang baik, tetapi mari perhatikan kualitas pesan yang ingin disampaikan. Siapapun yang merasa menjadi bagian dari persoalan kemacetan ini harus mulai berfikir. Apa kontribusi dan peran yang bisa dimainkan oleh masing-masing untuk mengatasi persoalan ini?. Para pemilik kendaraan, sudikah anda beralih ke transportasi publik? jawabannya bisa saja Ya, dengan catatan kalau moda transportasi tersebut mampu memberikan kenyamanan, kemananan, kemudahan, ketepatan waktu, dan tentunya harga yang rasional. Kalau tidak bisa menawarkan seperti itu, ya jangan harap mereka mau berpindah.

Padahal, menurut satu sumber (bisnis Indonesia), rasio kepemilikan mobil di Indonesia saat ini sebesar 1;7, masih lebih rendah dibandingkan dengan Thailand maupun Malaysia dimana perbandingan pemilik mobil dengan jumlah penduduk di negara setempat sudah mencapai 1;3. Sumber lain menyebutkan setiap 1000 orang Indonesia, terdapat 26 – 30 pemilik kendaraan. Oke lah terdapat perbedaan data statistik. Toh selama ini kita juga belum mampu menghitung secara akurat jumlah penduduk kita.🙂

Ini baru cerita kemacetan ibukota. Sebuah ironi muncul ketika Harian Kompas hari ini memuat tulisan tentang propinsi penghasil aspal, yang jalanannya justru tidak beraspal!. Ceritanya sebuah truk ingin mencapai sebuah kecamatan yang berjarak 20 km, harus menempuh perjalanan selama 14 hari!!!. Bayangkan apa yang bisa anda lakukan selama 14 hari dengan kegiatan produktif. Cerita ini seakan mengerdilkan ocehan dan omelan pengendara mobil di Jakarta yang harus menempuh jarak yang sama hanya dengan waktu tempuh 2 jam saja. It’s obviously uncomparable. But still, this is an unbelievable story, for the country which has been enjoying independence for more than 6 decades. Where have they been anyway??.

Cerita lain tentang kemacetan bukan hanya monopoli Indonesia (Jakarta, bandung dan kota-kota lainnya). Di China pernah tercatat terjadi kemacetan yang menghabiskan waktu hampir 9 hari, sebuah rekor yang tentunya tidak patut ditiru.

Lain lagi di Jepang, negara yang baru luluh lantak akibat gempa dan tsunami, yang notabene negara produsen otomotif utama dunia, tingkat kemacetan sangat rendah. Bukan karena tidak ada mobil berkeliaran di jalanan. Hal ini karena kapasitas infrastruktur jalan sangat-sangat memadai, yang mampu menampung volume kendaraan yang begitu banyak. Tetapi tinggalkan dulu alasan kapasitas infrastruktur ini. Ternyata perilaku warga Jepang juga tidak konsumtif. Tidak setiap keluarga Jepang mempunyai kendaraan bermotor. Kebanyakan dari mereka lebih suka bersepeda, dan menggunakan kereta untuk bepergian. Salah satu alasannya karena tarif parkir yang dibuat mahal. Sayangnya orang kita kalau dikasih tarif parkir yang mahal, malah mengadu ke pengadilan.

Tetangga  kita Singapura, tidak pernah terdengar cerita kemacetan yang parah. Kecuali karena banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di kawasan orchard dan sekitarnya. Pemerintahnya memberlakukan kebijakan pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor, dengan strategi pembebanan fiskal dan bunga kredit yang sangat tinggi, serta pembatasan usia kendaraan.

Bagaimana dengan kita? Dengan kondisi pendapatan per kapita Indonesia  pada 2010 saja tercatat mencapai Rp 27 juta atau setara dengan 3.004,9 dollar AS. Angka ini naik sekitar 13 persen bila dibandingkan pada 2009 lalu yang mencapai Rp 23,9 juta atau setara 2.349,6 dollar AS (Kompas). Ini menunjukkan trend orang-orang Indonesia yang semakin kaya (walaupun di wilayah tertentu saja). Walaupun masih tidak sebanding dengan tingkat perkapita tetanggga kita seperti Malaysia, Thailand, apalagi Singapura. Ini masih berita bagus sekaligus berita buruk. Sebuah prestasi bagi pembangunan kesejahteraan. Tetapi jika menilik perilaku masyarakat yang “pada dasarnya” sangat konsumtif, uang-uang itu bisa dipastikan akan dibelanjakan untuk barang-barang yang sebetulnya tidak perlu, yang salah satunya adalah belanja otomotif.😦

Eventually bisa dipastikan kalau kemacetan akan semakin menghiasi detik-detik hidup kita (bukan satuan hari lagi!!). Jakarta akan mengalami kemacetan total tahun 2012, kata banyak sumber. Semua data dan fakta mengarah ke sana. Masih berminat ke Jakarta?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s