Sebuah Catatan Perjalanan ke Kalsel

Dalam penerbangan ke Banjarmasin kali ini, zerosugar mengamati mayoritas penumpang ternyata berpakaian gamis. Dengan atribut yang khas timur tengah, nampaknya mereka adalah penduduk Kalsel yang baru pulang menunaikan ibadah umrah.

Sejenak zerosugar kemudian berpikir, sepertinya orang-orang ini tergolong kelompok berada juga, yang mempunyai tingkat kemapanan ekonomi di atas rata-rata kelas pekerja di Jakarta dan sekitarnya. Paling tidak dari indikasi kemampuan mereka berangkat umrah sekeluarga, bahkan dengan anak-anak mereka yang masih kecil–sebuah mimpi penulis yang belum mungkin terwujud dalam waktu dekat.

Asumsi bahwa mereka termasuk golongan berada semakin menguat ketika zerosugar mengunjungi Martapura (untuk kesekian kalinya), dan melihat bahwa mata pencaharian yang populer adalah berdagang, terutama mutiara dan berbagai perhiasan.

Namun setelah melakukan obrolan ringan dengan penduduk setempat, ternyata dasar asumsi ini mulai melemah, karena kenyataannya menurut yang bersangkutan, penduduk Kalsel pada umumnya tidak semapan yang zerosugar kira. Bahkan para penumpang yang penulis saksikan di pesawat (menurutnya) sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan petani (yang tidak tergolong petani kaya). Bahkan sebagian besar dari mereka adalah termasuk masyarakat yang biasa-biasa saja secara ekonomi.

Lebih lanjut menurut dia, bagi masyarakat Kalsel, menunaikan ibadah umrah apalagi haji merupakan sebuah kehormatan keluarga. Terlepas dari derajat kewajiban dan nilai religius yang diyakini, status sosial ternyata menjadi sebuah alasan penting mengapa mereka memaksakan diri untuk tetap berangkat umrah, walaupun dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Kehormatan keluarga, keyakinan pada nilai-nilai agama, dan keinginan meneruskan tradisi leluhur menjadi pendorong utama mengapa mereka mau mengorbankan harta produktifnya untuk melakukan perjalanan mahal tersebut.

Bukan untuk mencermati atau mengkritisi dari perspektif kesejahteraan dan ekonomi keluarga, karena dalam hitung-hitungan ekonomi tentunya ini sesuatu yang kontra-produktif, tetapi bagi zerosugar yang paling penting adalah bahwa ini merupakan sebuah bentuk nilai dan kearifan lokal yang hanya bisa dipahami dalam konteks sosiologis. Keyakinan masyarakat akan pentingnya menunaikan umrah atau haji sekeluarga menjadikan masyarakat Kalsel menjadi sangat “boros” secara ekonomi tetapi sangat “luhur” secara nilai, karena tradisinya terjaga. Sebuah keyakinan yang sebenarnya patut kita apresiasi.

Di tengah hiruk pikuk media massa yang memuat berita tawuran yang ternyata dilakukan tidak hanya oleh kelompok yang merasa terpelajar seperti mahasiswa, tetapi juga antar kelompok warga, seperti di beberapa sudut kota Jakarta, Ambon dan kota-kota lainnya,bagi penulis ini merupakan sebuah berita yang menyenangkan. Ternyata kearifan lokal bangsa ini bukan cuma tawuran, tetapi juga seperti apa yang dilakukan dan ditradisikan oleh kebanyakan masyarakat Kalsel.

Dalam workshop global governance di Banjarmasin, zerosugar mendapat pertanyaan peserta tentang penguatan peran negara atau penguatan masyarakat. Zerosugar mencoba merespon bahwa penulis termasuk yang meyakini bahwa setiap jaman mempunyai nilai dan kearifannya masing-masing. Ada masa ketika peran negara harus kuat ketika masyarakat lemah atau tidak berdaya. Pada saat masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk hidup dan berkembang, maka kehadiran negara menjadi sebuah keniscayaan untuk menjamin kehidupan masyarakat dengan standar-standar yang disepakati. Tetapi ketika msayarakat sudah berdaya dan mampu berdiri secara mandiri, sebaiknya peran negara dikurangi dalam pengertian tidak lagi dominan dan menjadi pemain juga, tetapi cukup dalam porsi-porsi pengawasan, pengendalian mutu, atau  penetapan standar-standar dsb.

Nah, konteks yang relevan bagi zerosugar adalah juga termasuk bagaimana memahami tradisi dan kearifan lokal masyarakat yang harus mampu mengimbangi tuntutan dan arus jaman. Bagaimana pula nilai dan kearifan lokal ini tidak berbenturan terlalu konfrontatif dengan keberadaan negara. Bagaimana negara bisa meresponnya dan memastikan optimalisasi situasi kelokalan ini untuk kemanfaatan sebesar-besarnya. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s