Look east policy…

Masih ingat dengan kebijakan Look-east policy yang didengungkan Mahathir, PM Malaysia legendaris ini di tahun 1982?. Sebuah kebijakan yang barangkali terdengar aneh ditelinga dan sangat tidak populer pada saat itu. Pada saat negara-negara barat sedang berada di puncak kejayaannya. Mungkin hanya Jepang sebagai negara Asia yang bisa dikatakan melek secara ekonomi maupun teknologi di saat yang sama. Tetapi lihatlah 20-25 tahun kemudian setelah itu. Saat ini Eropa dipaksa untuk ‘menoleh’ ke Asia. Siapa yang mengira kalau AS dan Eropa sekarang menghiba-hiba dan sangat tergantung dengan kebijakan ekonomi China?  Siapa yang tidak tercengang dengan kapasitas ekonomi China saat ini. Betapa sekarang jumlah penduduk berkategori terkaya di dunia kini lebih banyak tinggal di Asia, melebihi jumlah yang ada di Eropa. Indikator di pasar-pasar misalnya, produk teknologi Korea, Jepang, Taiwan dan China merupakan produk yang sangat kompetitif dan hi-tech. Jalanan di Eropa dipenuhi oleh mobil Toyota atau Suzuki, sementara gedung perkantoran dan kampus-kampus legendaris disesaki dengan komputer LG dan LCD Samsung buatan Korea. Sementara orang-orang di jalan sibuk dengan gagdet buatan China dan Taiwan. Bersiaplah juga dengan produk India yang juga akan membanjiri pasar dengan fitur tidak kalah hebat dan harga yang jauh lebih bersaing.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita dahulu punya pemimpin sekaliber Mahathir, atau bahkan jauh lebih mumpuni, yaitu Soekarno. Satu dari sedikit pemimpin negara yang mampu mengatakan tidak pada dunia barat. Cara pandang dan pola pikir Soekarno yang notabene berpendidikan barat tidak membuatnya menjadi antek barat. Bahkan di tangan Bung Karno lah Indonesia dikenal sebagai negara yang disegani (dikenal baik) di Asia bahkan dunia, walaupun memang harus diakui bahwa secara ekonomi Bung Karno tidak mempunyai catatan prestasi apapun. Alasannya jelas, saat itu dunia sedang dalam masa transisi setelah Perang Dunia II berakhir. Politik Mercusuar Bung Karno ini hampir mirip dengan prinsipnya Mahathir. Mungkin saja Mahathir menyontek pemikiran Bung Karno dalam setiap ide atau gagasannya. Tapi tidak ada yang salah dengan itu. Justru keberanian Mahathir telah memberi pelajaran betapa Asia sebagai sebuah pusat kekuatan ekonomi dunia yang potensial, sudah seharusnya tampil sebagai pemimpin. Sejarah panjang kolonialisme dan imperialisme barat di Asia yang pernah terjadi biarlah sebagai noda hitam kecil di catatan panjang sejarah peradaban Asia.

Catatan media hari ini, menurut lembaga pemeringkat internasional Fitch (detik.com), Indonesia adalah termasuk negara yang relatif aman dari ancaman penularan krisis Eropa. Entah karena ekonomi kita yang belum 100% terintegrasi dengan ekonomi global, atau alasan lain. Padahal harus diakui bahwa pasar kita sudah sangat liberal, bahkan jauh lebih liberal daripada AS, sampai-sampai petani dan rakyat miskin relatif tidak terlindungi dengan pola market-driven ini. Menariknya ternyata tetangga kita, Malaysia dan Thailand justru dinilai lebih rentan terhadap ancaman serupa. Krisis ini juga sebenarnya bagian dari dinamika ekonomi global, tidak terkecuali Eropa. Saat ini kita mungkin sedang menyaksikan bagaimana Eropa harus berjuang keras untuk keluar dari krisis, seperti halnya dulu yang dialami wilayah Asia di tahun 1998-an.

Jadi, moral yang bisa diambil hari ini, berhentilah mencaci bangsa sendiri, berhenti memaki saudara sendiri, jangan terlalu memuja barat dengan segala hedonisme nya. Masa depan kita ada di Asia, yaitu di kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s