The Netherlands (1)

Ini cerita perjalanan liburan 10 hari di belanda. Dengan bekal paspor biru, zerosugar dengan yakin langsung booking tiket dan melangkah ke bandara untuk penerbangan sekitar 1 jam ke Amsterdam dengan KLM. Segala sesuatunya berjalan baik sampai ada sedikit masalah pada saat arrival. Apa masalahnya? sedikit kita kembali dulu ke perjalanan awal dari rumah sampai bandara, then find out what the problem is.

30 jam sebelum penerbangan datang sebuah email notifikasi dari KLM, yang menganjurkan agar check in dilakukan secara online untuk menghindari antrian di bandara. Akhirnya zerosugar melakukannya secara online, dan dengan bebas bisa memilih tempat duduk favorit. Yang menarik bahwa kita tidak perlu print out bordingnya, cukup mendaftarkan email dan jenis HP kita, setelah selesai akan dikirim e-boarding pass. Jadi begitu di bandara cukup menunjukkan e-boarding pass yang ada di layar HP kita.

Setelah packing beres, dengan satu koper, pagi-pagi langsung jalan menuju stasiun University. Lalu membayar tiket 3,4 pounds untuk tujuan Birmingham International. Rute yang dilalui cukup sederhana, transit di Birmingham Newstreet (hanya dua stasiun dari university), lalu menuju platform 1 untuk menumpang Virgin yang menuju London Euston (kalo gak salah) atau NEC, dan turun di stasiun yang pertama disinggahi.

Dari stasiun Birmingham international, lalu ikuti petunjuk menuju ke Airport, begitu naik ke sebelah kiri, kalau ke kanan menuju NEC. Lalu masuk ke kereta otomatis (tanpa masinis) yang akan membawa kita ke Airport.

Karena bawa e-boarding pass, maka antriannya lowong, alias gak ngantri, cukup letakkan layar HP kita di mesin pembaca, dan tap… pintu check in pun terbuka.

Di bagian imigrasi, isi tas dikaduk2, semua dibuka, terutama laptop harus dikeluarkan dari tas koper. Padahal semalem udah rapih banget. Satu deodorant diambil, karena dianggap barang membahayakan keselamatan umat. Ya deh.

Dalam kurang lebih satu jam pesawat sudah mendarat di Schiphol. Yang mengagumkan dan sekaligus membosankan adalah waktu tempuh dari landing point ke terminal memakan waktu hampir (atau malah lebih dari) setengah jam. Hahh.. kok bisa selama itu??? saking luas dan sibuknya Schiphol, landasan pendaratan dengan terminal begitu jauh.

Tapi itu bukan masalah yang berarti, karena masalah sebenarnya ada di proses imigrasi Schiphol yang tidak diantisipasi oleh zerosugar. Bagitu masuk antrian imigrasi, tentunya di antrin non-EU passport, si petugas celingukan seperti kebingungan melihat dokumen zerosugar cuma paspor doang. Dia nanya apa gak ada dokumen pendukung lainnya. Setelah disampaikan bahwa paspor biru tidak memerlukan visa, dia mengiyakan, tapi lalu manggil temennya dan menggiring zerosugar ke ruangan berbeda. Lalu dimulailah interogasi oleh tiga orang ke zerosugar, intinya bertanya berapa duit yang dimiliki, apa tujuan datang ke belanda, mengapa punya paspor biru, berapa lama tinggal di belanda dan pertanyaan ridiculous lainnya. Ternyata masalah sebenarnya terletak pada tidak adanya surat invitation yang at least menjamin keuangan zerosugar selama di belanda. Setelah butuh waktu lama dan menjelaskan berulang kali  dan mereka merasa yakin kalau zerosugar bukan pencari suaka, apalagi teroris (ngenesss), akhirnya mereka memperbolehkan zerosugar memasuki belanda. benar-benar pengalaman yang berharga.

The bottom line is, walaupun tidak memerlukan visa, pemegang paspor biru sangat dianjurkan untuk membawa surat invitation dari  siapapun, apakah itu individu atau institusi yang bisa menerangkan tujuan kita datang, dan atau menjamin keuangan visitor selama berada di Belanda.

6 responses to “The Netherlands (1)

  1. nanya dong…saya tugas di Belanda pake paspor biru – bebas visa, rencana mau liburan ke negara yang bebas visa juga, misalnya Austria, apakah invitation letter di negara tujuan harus dikeluarkan dari municipality atau cukup dari kolega yang tinggal disana?

    • Mbak Fitri,
      Invitation letter itu sebenernya “occasionally” saja ditanya di imigrasi, karena sebenarnya tanpa itupun kita bisa dan berhak masuk dengan status pemegang paspor biru. Tapi untuk menghindari “huru-hara” di pintu imigrasi, memang sebaiknya itu disiapkan. Kalau kasus Belanda, itu surat berupa form yang ada di kelurahan setempat, dan diisi oleh keluarga/kolega anda. Untuk perjalanan ke Austria saya tidak punya infonya, mungkin perlu klarifikasi dulu ke kedubes Austria, untuk amannya. Asumsi saya sih tanpa invitation letter juga bisa masuk, kalau memang dinyatakan bebas visa.

  2. Halo m zetosugar..

    Tks utk sharingnya…

    Kl boleh mau Mohon infonya mba..apakah kl jln2 mmg bs mgunakan paspor dinas? Sebaliknya: Kl sdg dinas tp paspor yg dicap adalah paspor hijau (yg sdh terlanjur bervisa) bisa mnimbulkan mslh ga ya?

    Terimakasih sblmnya mb…

    • Mbak Mel, paspor dinas bisa digunakan untuk “jalan-jalan”, paspor hijau pun bisa digunakan untuk berdinas, tapi hanya untuk kepentingan lewat imigrasi, yang membedakan hanya statusnya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s