Inspirasi hidup, why me? why not?

Ketika kita ditanya siapa yang paling berpengaruh dalam hidupnya, pada umumnya jawaban akan berkisar di orang tua, orang sukses, terkenal, pahlawan banyak orang, dan semacamnya. Kesuksesan materi biasanya membuat  orang merasa telah berhasil dalam hidupnya. Popularitas juga biasa menjadi ukuran capaian seseorang dalam hidupnya.

Tapi pernahkah terpikir, ketika kita mencapai segala kesuksesan “semu’ tersebut, diseberang sana ada yang terbaring lemah tidak berdaya, secara ekonomi, sosial, politik, bahkan dalam pengertian yang literal sekalipun, benar-benar berbaring di rumah sakit karena alasan kesehatan? kanker, diabetes, jantung, misalnya. Orang-orang seperti ini tidak mempunyai banyak kesempatan, sebanyak yang kita punya, untuk membangun hidup seperti ‘layak’nya kita hidup.

Kekecewaan adalah bagian dari kehidupan. Sewaktu sekolah, zerosugar berhasil masuk SMP dan SMA favorit di kota kelahirannya. Walaupun tidak menjadi nomor satu, tetapi keberhasilan masuk sekolah terkenal memberi arti banyak bagi zerosugar dalam memaknai kesuksesan hidup. Tetapi hidup memang tidak pernah seindah mimpinya. Seteah masuk ke jurusan Fisika, sebuah jurusan yang dianggap paling ‘prestisius’ saat itu, zerosugar ternyata tidak berhasil meneruskan misinya, dan ‘hanya’ lulus UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri) di jurusan sosial. Sesuatu yang tadinya tidak disyukurinya, di antara mayoritas teman-temannya yang justru tidak lulus sama sekali. Ternyata dengan jurusan sosial itulah, zerosugar mempunyai kesempatannya untuk bisa membuka mata dan  melihat dunia, sesuatu yang belum tentu bisa dihantarkan oleh jurusan impiannya. Itulah manusia, jarang mensyukuri dan memahami rahasia dibalik semua rencana Tuhan.

Meninggalnya Menkes (02/05/12) karena mengidap kanker banyak membuat kaget banyak orang. Walaupun pengidap kanker biasanya sudah punya vonis medisnya masing-masing, dan relatif predictable, tetap saja kepergiannya menyisakan keterkejutan banyak pihak. Bagi zerosugar, ada tersisa kekaguman yang luar biasa terhadap almarhumah, bukan karena dia orang terkenal, seorang pembesar negeri, tetapi karena sikap hidupnya, dan pesan ‘terakhir’nya yang dimuat dalam sebuah bukunya. Pesan yang sangat menyentuh adalah ketika sebagian besar orang menyesali penyakit yang dideritanya, Bu Menkes justru mensikapi sebaliknya. Daripada menggugat Tuhan dengan pertanyaan “Why me?“, beliau malah berkata “Why not?“. Setelah sekian anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya, dengan segala pencapaian yang tidak semua orang  mendapatkannya, maka ‘anugrah’ penyakit pun patut diterima sebagai bagian dari rencana-Nya.

Berikut kata-kata Bu Menkes, Endang Rahayu Sedyaningsih dalam Pengantar buku “Berdamai dengan Kanker” :

“Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan lima bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?” “Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT.

Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan dua putera dan satu puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan.”

“So …. Why not? Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.”

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati.

Dan …. jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.”

Zerosugar sangat tersentuh dengan penggalan kalimatnya dan mencoba berkontemplasi diri. Setelah sekian banyak yang dianugrahkan oleh Tuhan padanya, ‘kenapa tidak‘ belajar ikhlas dengan penyakit yang dititipkan-Nya? Why not trying to learn to sit with 1% discomfort in life, after a 99% everything that has been given. My life is completely blessed, after all. Having a wonderful family with a supportive wife and lovely kids. Menyesali pun tidak memberi manfaat apapun, bagi dirinya, apalagi sekitarnya. Mengapa tidak mensyukuri segala kelebihan yang sudah dimiliki, sehingga penyesalan menjadi kecil dan tidak berarti. Bukankan 1% tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan 99% tadi?

Hidup adalah perjalanan insan yang pastinya tidak sama satu sama lain. Namun masing-masing bisa belajar satu dengan yang lainnya, agar mampu memaknai hidup dan kehidupannya, dan memberi arti dan manfaat sebesar-besarnya bagi semua orang. Hidup akan tetap menjadi misteri, tetapi di sepanjang misteri itu lah kita bisa menciptakan ‘mastery’. Mari bangun dan tinggalkan 1% penyesalan hidup dengan memaksimalkan 99% kesempatan hitup ini.

Semoga menginspirasi siapapun yang sedang dalam kekalutan hidup ataupun kesuksesan hidup, dalam arti apapun.

Nieuwegein, Netherlands, 3 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s