The Do’s and Don’t’s, but please, do open your mind

Sebetulnya ini hal klise. Ketika kita sedang berada di luar negeri, entah itu karena berkunjung singkat, atau menetap sementara, tentu ada hal-hal baru yang biasanya membuat kita kaget. Saran saya sih tidak perlu norak atau malah melecehkan kebiasaan lokal, yang menurut pandangan kita aneh, karena tiap bangsa memang diciptakan berbeda. Sebagai empati-nya, bayangkan kalau ada orang asing datang berkunjung dan melecehkan adat kebiasaan kita, tentu kita tidak senang. Kira-kira begitu analoginya. Bear that in mind !

Kebiasaan di Jepang, misalnya, ketika pertama kali kita akan bertemu dengan kolega bisnis atau profesor (bagi mahasiswa) adalah memberinya ‘omiyage’ atau hadiah kecil, sebagai bentuk penghargaan dan ketulusan kita untuk berhubungan secara kerja maupun hubungan sosial. Cukup membeli oleh-oleh kecil, misalnya miniatur wayang, hiasan dinding, atau kemeja batik (tapi pastikan dulu ukurannya, hehehe). Tidak memberatkan dan tentunya juga tidak ada salahnya berbuat baik kan?. Apakah kebiasaan ini harus diikuti? tentu tidak, tetapi sebagai sebuah bentuk kesantunan, ada baiknya kita ikuti, toh tidak akan menguras kantong kita.

Ada lagi kebiasaan untuk mandi bareng (wow) di ofuro. Mandi dalam pengertian betul-betul tanpa busa**, tentunya dipisahkan antar jenis kelamin. Ini semacam forum sosialisasi atau malam keakraban. Filosofinya (katanya) bahwa antar teman atau sahabat tidak ada yang ditutup-tutupi, semua serba jujur dan transparan. Masalahnya (bagi zerosugar) kejujuran dan transparansinya kok juga diterjemahkan dalam bentuk fisik, hehehe. Repotnya sekarang, sesama jenis juga bisa bermasalah, kalau ada yang disorientasi, hehehe. Nah utnuk kebiasaan ini anda silahkan menentukan pilihan, kalau keyakinan anda melarangnya, sampaikan dengan baik-baik, tanpa merendahkannya. Jika memang anda sangat open-minded dan tidak keberatan dengan onseng tersebut, why not?

Kebiasaan minum sake, juga merupakan penghormatan bagi tamu yang mereka undang. Tapi kalau memang kita merasa itu bertentangan dengan keyakinan, cukup disampaikan pada mereka (ini berlaku juga untuk jenis makanan yang dipantang), dan biasanya, kita akan disajikan minuman dan makanan terpisah, seperti jus jeruk misalnya (saingan sama anak2 kita… hehehe).

Ada banyak kebiasaan lainnya di Jepang yang mirip dengan Indonesia, mungkin karena sesama Asia nya. Yang paling kelihatan dalam kehidupan sehari-hari misalnya adalah orang muda menghormati dan mendahulukan yang lebih tua, atau ketika memasuki rumah orang, maka sepatu harus dilepas (jangan sok barat deh kalau di negeri sakura, walaupun orang muda Jepangnya sendiri sangat American-minded).

Ketika pertama kali menjejakkan kaki di inggris, zerosugar merasakan atmosfir yang lebih individualis. Pada umumnya orang Inggris tidak bisa segera dekat dengan orang asing. Mungkin sudah saking banyaknya orang asing di sini, jadi mereka tanpa sadar ingin melindungi identitas keinggrisannya. Jadi siap-siap kecewa bagi yang mungkin mengharapkan keramah-tamahan orang sini seperti yang biasa kita jumpai di tanah air. Tetapi bukan berarti mereka tidak ‘friendly’, cuma mungkin butuh waktu yang lebih panjang. Mau cara yang lebih singkat? datanglah ke pub atau bar bersama mereka, dijamin anda akan lebih mudah diterima. Karena orang inggris termasuk yang sangat suka minum. Tetapi itu kembali ke nilai yang anda yakini. Dilematis toh?

Berkunjung ke Belanda juga memberi pengalaman baru, seperti yang paling teringat ketika kita bertamu dan mandi di rumah orang, maka kita wajib mengembalikan kondisi kamar mandi itu seperti semula. Artinya? kita harus mau membersihkan dan mengelap bagian-bagian yang basah sampai kering. Itu karena di sana tidak ada kamar mandi basah, semuanya kering (padahal di kita mandi itu udah pasti basahnya, hehehe).

Korea, India, Singapura, Malaysia, Hong Kong, … masih banyak cerita tentang hal-hal yang baru dan akan dijumpai kalau kita berkesempatan berkunjung. Kalau ada senggang waktu, akan dengan senang hati dibagikan. Point dalam postingan ini sebenarnya lebih kepada bagaimana kita menghargai tempat yang kita kunjungi, dengan tetap (tentunya pilihan kita sendiri) berpendirian dengan keyakinan masing-masing. Sangat narrow-minded alias picik, kalau kita merendahkan bangsa lain, apalagi tempat yang sedang kita kunjungi, dengan pandangan bahwa perspektif kita paling baik dari segalanya. Sepertinya tidak perlu untuk arogan dan militan dengan keetnisan kita, seperti Hitler atau Musolini, tetapi juga jangan lupa kacang pada kulitnya. The place where you’re born, no matter from which ethnic group you are, they’re all arbitrary.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s