Mengintip Layanan Dasar Kesehatan di Negara (Maju)

newhospitalheader1

Queen Elizabeth Hospital Birmingham
courtesy: http://www.uhb.nhs.uk/new-hospital.htm

Inggris mungkin tidak lebih baik dari Jepang, terutama dalam hal kemajuan ekonomi, infrastruktur, teknologi dan keramahan orangnya. Namun demikian kedua negara tetap mempunyai tingkat kesamaan dalam kualitas pelayanan publik. Penulis sangat terkesan dengan salah satu jenis  pelayanan publik di kedua negara, terutama dalam hal pelayanan kesehatan. Seperti halnya negara-negara maju lainnya, Inggris dan Jepang mempunyai standar pelayanan kesehatan yang relatif (kalau tidak bisa dikatakan jauh) lebih baik dari kita di Indonesia. Tentunya tidak salah kalau kita belajar untuk menirunya. Beberapa hal yang sangat menarik perhatian penulis adalah seperti berikut:

1. Obat-obatan

Jangan berharap apabila kita pergi ke dokter karena sakit, maka serta merta kita akan diberikan obat apalagi antibiotik. Untuk segala jenis sakit berkategori ringan, seperti pilek, sakit kepala, pusing, panas dingin, dsb, saran dokter hanya satu, istirahat yang cukup. Sangat kontras dengan yang terjadi di kita, di mana dokter biasanya selalu mencecoki kita dengan segala macam obat-obatan (dan antibiotik) dengan sangat mudahnya. Ketika penulis klarifikasi, ternyata bagi mereka obat-obatan kimiawi itu sebenarnya tidak bagus untuk sistem pertahanan tubuh alami kita. Para dokter di sini (baca: Inggris dan Jepang) lebih mengutamakan pertahanan alami dari sistem kekebalan tubuh kita. Jadi ketika dokter di kita seolah memaksakan diri untuk “menjual” obatnya kepada pasiennya (entah karena motif ekonomi atau motif lainnya), para dokter di sini justru sangat menghindari memberikan obat-obatan tersebut. Tentunya untuk kasus penyakit berkategori berat, tidak ada pilihan selain menggunakan obat-obatan (dan teknologi).

2. Database (riwayat medis) pasien

Sistem database pasien adalah sistem pemusatan data dan riwayat medis pasien secara nasional, yang hanya bisa diakses oleh petugas kesehatan berwenang, seperti dokter, pihak asuransi kesehatan, dan tentunya pasien itu sendiri. Dengan database ini, kita bisa datang ke pusat-pusat pelayanan kesehatan mana pun tanpa harus menjelaskan riwayat kesehatan kita secara detail, karena semua terrekam dengan baik. Pengalaman penulis ketika berkonsultasi dengan dokter di General Practitioner atau GP (baca: Puskesmas), petugas pemeriksa darah di rumah sakit dan dokter mata di tiga tempat berbeda, mereka dapat membaca riwayat medis penulis dari sumber (situs NHS) yang sama. Selama masa konsultasi, dokter akan menghabiskan waktu sekitar sepertiganya untuk menginput berbagai data dalam rekam medis pasien, sehingga bisa data selalu terupdate secara realtime.

Sepertinya Indonesia bisa meniru sistem database ini dengan mudah. Apalagi dengan adanya rencana pengembangan sistem informasi kependudukan yang terpusat. Mungkin tidak murah, tetapi juga tidak akan sangat mahal. Semuanya bisa terintegrasi dalam satu masterplan yang utuh. Tidak hanya sektor kesehatan yang diuntungkan, tetapi juga untuk keperluan update dan kebutuhan data akurat pemilih di Pemilu, bukan?. Barangkali koordinasi dan komitmen adalah kata kuncinya.

3. Etika dan kerahasiaan pasien

Terkait database di atas, para petugas kesehatan sangat memegang teguh etika dan kerahasiaan data pasien. Bahkan data tersebut tidak boleh disampaikan kepada siapapun, termasuk kerabat atau teman yang ingin tahu, tanpa seijin pasien atau perintah pengadilan. Sewaktu penulis menemani salah satu teman yang di opname karena menderita sakit di sebuah rumah sakit di Tokyo, penulis tidak pernah diberitahu penyakitnya secara gamblang oleh dokternya. Padahal saat itu penulis berperan sebagai penterjemah dokter untuk keluarga teman yang sakit ini. Belakangan penulis baru menyadari bahwa informasi pasien tersebut sangat dilindungi dan hanya pasiennya sendiri yang bisa mengijinkan apakah penyakitnya boleh diberitahukan atau tidak. Penulis baru mengetahui secara pasti penyakitnya itu setelah yang bersangkutan meninggal di rumah sakit itu, dan setelah istrinya mengijinkan dokter untuk memberitahu jenis penyakitnya.

Barangkali dengan sistem dan tradisi komunal bangsa kita, biasanya kalau kerabat atau teman kita sakit, tentu kita merasa perlu untuk mengetahui secara detail mengenai penyakit yang diderita pasien. Sebabnya adalah sebagai bentuk empati kita terhadap si sakit. Tetapi barangkali kita melupakan bahwa si pasien juga membutuhkan ruang privat yang lebih luas, serta kesiapan mental yang cukup untuk menerima kondisinya diketahui umum. Tidak ada salahnya untuk menghormati privasi si pasien, bukan?

4. Asuransi Kesehatan

Di Indonesia dikenal Askes, Jamkesmas, Kartu Sehat, dan beragam jenis jaminan kesehatan yang menyasar pasien dari golongan ekonomi lemah. Di negara maju, semua warga negara bisa mendapatkan layanan kesehatan secara mudah tanpa birokrasi berbelit dan “cuma-cuma”. Hal ini bisa dilakukan karena negara mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pelayanan dasar kesehatan. Isu kesehatan selalu menjadi tradisi yang “menjual” dalam wacana politik domestik mereka. Kesejahteraan dokter dan petugas kesehatan tidak tergantung dari berapa banyak obat yang bisa mereka “jual”. Jadi mereka bisa berkonsentrasi  pada kualitas pelayanan yang mereka berikan. Setiap GP di Inggris akan dinilai kinerjanya dan diranking berdasarkan review dari publik (atau customernya). Sementara di Jepang, dengan kondisi “aging society” dan angka kelahiran yang sangat rendah, pemerintahnya memberikan insentif kepada siapapun yang mau mempunyai keturunan dengan pelayanan gratis dari mulai persiapan dampai melahirkan. Bahkan untuk wilayah Greater Tokyo (tiap prefektur mungkin berbeda kebijakannya), setelah satu hari setelah melahirkan, sang ibu dan keluarganya akan dibekali (sekitar) ¥ 300,000 sebagai bentuk apresiasi pemerintah. Memang Inggris tidak sekaya itu, tetapi pelayanan dasarnya tetaplah sangat terjangkau atau bahkan (hampir) gratis. Tentu kita tidak berharap pemerintah kita melakukan hal yang sama (dalam waktu dekat), apalagi dengan kondisi ekonomi kita serta angka kelahiran kita yang masih di atas 2%. Pelajaran yang bisa diambil adalah bagaimana pemerintah bisa mengefisienkan dan mengalokasikan anggaran untuk kesehatan, sehingga jasa kesehatan menjadi lebih terjangkau, kalau tidak bisa gratis sama sekali.

Dengan tulisan ini, tentu tidak adil apabila kita menilai pelayanan kesehatan kita sedemikian buruk, apalagi jika dibandingkan dengan dua negara tersebut yang notabene lebih maju. Tetapi menjadi suatu pembelajaran apabila kita mau menengok sebentar dan belajar tentang banyak hal yang sebetulnya tidak menguras sumber daya terlalu banyak. Barangkali yang diperlukan adalah cara pandang yang berbeda (dari dokter, petugas kesehatan, dan juga pasien), dan bagaimana mengoptimalkan sumber daya yang kita miliki saat ini. Penulis yakin, kondisi riil Indonesia hanya selangkah di belakang, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk melakukan dua atau satu langkah ke depan untuk sekedar menutup kesenjangan pelayanan ini. Bukan (hanya) wacana dan kritik yang kita perlukan, tetapi (barangkali) jauh lebih penting adalah ide segar disertai langkah (konkrit) yang lebih prioritas.

3 responses to “Mengintip Layanan Dasar Kesehatan di Negara (Maju)

  1. Pingback: Dokter gigi di Inggris dan Indonesia sama mahalnya | zerosugar

    • Layanan kesehatan itu gratis mbak, sementara untuk obat2an tergantung level kesejahteraan kita, kalau dinyatakan tidak mampu oleh NHS, maka gratis juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s