Cambridge, hanya untuk orang jenius?

Di penghujung liburan musim panas 2015 ini, kami sekeluarga melakukan trip singkat ke Cambridge, yang terletak di sebelah utara kota London. Dikenal dengan salah satu universitas paling tersohor sejagat, Cambridge lebih banyak memberi kesan sebagai kota pelajar atau kotanya orang pintar, terutama bagi yang belum pernah berkunjung ke sana. Padahal kota ini juga merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Inggris ini.

Seperti biasa kami selalu mencari tiket super murah jauh-jauh hari dengan bantuan situs trainline. Tentunya rute perjalanan menjadi agak aneh dan rumit, sebagai bentuk trade-off dengan harga murah tadi, hehe. Perjalanan di mulai dari Birmingham New Street, dengan menumpang Virgin train, kami menuju ke Euston di jantung kota London, lalu transit lewat tube ke King’s Cross St Pancras. Dari stasiun inilah kami lalu mengambil kereta First Great Northern menuju Cambridge dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Tiba di stasiun Cambridge, kami langsung menuju keluar, dengan harapan menemukan brosur atau peta gratisan. Sayangnya ternyata itu cuma ada di dalam peron, Karena kami terlanjur keluar stasiun akhirnya kami membaca peta yang ada di depan stasiun. Di situ terlihat tujuan city centre dengan petunjuk 20 menit jalan kaki. Well, di Eropa, 20 menit adalah waktu yang dianggap sangat “walkable”, sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki saja. 10 menit berlalu, nafas pendek tipikal orang Asia kami mulai menampakkan aslinya, ngos-ngosan. Akhirnya kami mendekati halte bis yang terletak di jalan yang kami lalui, lalu mulai membaca petunjuk nomor bis dan waktu kedatangan.

IMG_4392

King’s College, pose dengan tour guide dadakan kami yang baik hati

Setelah kebingungan membaca petunjuk, akhirnya kami bertanya pada seseorang yang juga baru menghampiri halte. Eh, rejeki tidak lari kemana, dia malah menawarkan diri untuk mengantar kami ke tempat tujuan kami yang pertama yaitu The Backs dengan berjalan kaki (lagi). Tour guide dadakan kami dengan senang hati menawarkan untuk mengantar kami ke tempat2 yang biasa dituju turis di kota ini. Setelah lama berbincang ternyata dia orang Perancis yang telah tinggal 15 tahun di Cambridge. Seorang Professor di bidang Kriminolog yang tidak bisa kembalii ke Perancis, hanya karena bidang studinya tidak laku di sana, candanya. Namanya Naomi, a very nice and friendly lady.

IMG_4401

Satu-satunya group picture selama trip, di depan Trinity’s College, thanks to our new friend who took it

Menyusuri kota Cambridge ternyata cukup dilakukan dengan jalan kaki. Kotanya memang relatif kecil. Kami menyusuri jalan Hill’s Road (kalau gak salah) lalu setelah 20 menitan sampailah di King’s College, salah satu college ternama di lingkungan University of Cambridge. Cerita Naomi, saat ini terdapat 31 college yang tersebar di seluruh Cambridge, dan King’s college ini adalah salah satunya yang paling dikenal. Menyusuri jalanan yang sama, kami juga melewati beberapa college lainnya, entah apa namanya, saking banyaknya, Catatan, setiap college mempunyai chapel sendiri-sendiri, entah apa sebabnya. Naomi sendiri bingung kenapa harus begitu. Untuk masuk college2 ini kita kudu bayar tiket. Selain itu ada pusat belanja, menara Great St Mary’s church, toko pastry, sampai pasar seni yang semua  dilalui dalam satu jalur perjalanan kami.  Kami pun sampai di penghujung jalan di mana ada satu college yang direkomendasikan Naomi untuk dilihat, namanya Trinity’s college. Bangunan bata merah yang khas Inggris dengan arsitektur gothik(?) sangat cantik untuk dilihat dan dinikmati.

Sampai di ujung cambridge river, kami berpisah dengan guide sukarela ini. Tidak lupa mengucapkan beribu terimakasih tentunya. Terakhir Naomi menunjukkan tempat punting tour, yaitu menaiki perahu atau cano menyusuri cambridge river dengan pemandangan klasik Cambridge. Sebenarnya sepanjang jalan pun para penjaja punting tour ini banyak bertebaran yang selalu sigap menawari siapapun yang lewat. Harga yang ditawarkan kepada kami £47 untuk satu keluarga, 2 dewasa dan 2 anak. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Sangat menyenangkan, dengan pemandu yang komunikatif (nampaknya sudah biasa dan sangat terlatih). Satu perahu kami bersama-sama dengan turis dari Perancis, Italia, Inggris dan tentu saja kami dari Indonesia, Itupun jadi tahu karena diabsen satu per satu sama pemandu, hehe.

IMG_4417

Punting tour, dengan (kebetulan) cuaca yang cerah

Catatan, kalau memang ingin mengikuti punting tour, sangat disarankan untuk mengambilnya pagi-pagi. Menjelang siang dan sore, lalu lintas di sungai akan menjadi padat dan tidak lagi menyenangkan. Beruntung kami langsung memesan punting tour ini segera setelah disarankan teman baru kami itu. Setelah puas dengan punting tour, kami menuju ke taman terdekat untuk melepas lelah dan makan siang. Menu sushi (sebetulnya lebih tepat disebut kimbap) yang disiapkan dari rumah dengan cepat kami lahap dan ludes. Hanya anak-anak yang agak manyun, karena mereka lebih suka jajan daripada menu rumahan.

IMG_4470

King’s College tampak dari perahu punting tour

Setelah melepas penat, kamu menuju museum Fitzwilliam yang terletak di jalanan menuju kembali ke stasiun. Musium ini gratis terbuka untuk umum. Di dalamnya, seperti kebanyakan musium di Eropa, lebih banyak bercerita peradaban Eropa yang sarat sejarah kristiani dan nudisme. Nudisme? ya sebut saja demikian, karena hampir di seluruh pojok ruangan musium, diletakkan patung-patung dewa yunani dan lukisan yang rata-rata polos tanpa busana. Hadeuuh.

IMG_4643

Salah satu karya seni mereka yang “menakjubkan”

Tidak terasa, hari sudah sore beranjak malam. Kami pun segera bergerak menuju stasiun, setelah sebelumnya menyempatkan makan malam di Parker’s Piece dengan membeli nasi biryani, samosa dan tentu saja chicken and chips kesukaan anak-anak. Selama menikmati hidangan, kami pun mendapat koneksi wifi dari The Cloud, sebuah layanan koneksi gratisan yang bisa didapatkan di beberapa tempat umum, di kota-kota Inggris. Dengan menumpang kereta Cross Country, kereta kami melaju menuju Birmingham pada pukul 7 malam, kali ini tidak melewati London, tapi melingkar lewat rute utara melalui Peterborough dan Leicester, sebelum tiba kemudian di New Street menjelang pukul 10 malam.

2 responses to “Cambridge, hanya untuk orang jenius?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s