Kebun Raya Cibodas

Menghabiskan 4 tahun di Inggris membuat keluarga kami sudah sangat terbiasa dengan kegiatan bermain di taman umum. Di Birmingham, tempat kami tinggal, terdapat sejumlah taman yang luas, nyaman, dan tentunya gratis. Beberapa yang terdekat dari rumah yang biasa kami kunjungi misalnya Victoria Park, Summerfield atau Lightwood Park. Salah satu yang agak jauh adalah Beacon Hill, di mana kami harus mencapainya terlebih dahulu dengan bis. Reportasenya pernah ditulis di sini.

Akhir Februari 2016, saatnya bagi kami untuk kembali ke tanah air. Setibanya di tanah air, salah satu tujuan kami adalah berlibur dan mencari tempat dengan suasana alam yang sepi, seperti taman-taman di Inggris. Dengan pilihan yang jauh lebih terbatas, kami memilih dua taman yang layak dikunjungi, yaitu antara Kebun Raya Bogor atau Kebun Raya Cibodas. Singkat cerita kami pilih Cibodas, selain lebih luas, juga kontur pegunungan menjadi kelebihan kebun raya ini daripada yang di Bogor.

Berangkat dari rumah jam 6 lewat, kami langsung memacu mobil memasuki tol JORR dan sampai di Jagorawi masih pagi sekali. Sayangnya begitu keluar pintu Ciawi, kami terkena penutupan jalur Puncak, dan harus menunggu kurang lebih 2 jam. Jadilah kami parkir massal di jalan Tol, sesuatu yang hanya bisa terjadi di Indonesia.

IMG_0804[1]

Parkir massal menjelang perempatan Ciawi arah Puncak, Maret 2016

Setelah jam 9, kami diijinkan untuk memasuki kawasan Puncak, dengan pengaturan lalu lintas satu arah. Diawali sirine polisi dan kibaran bendera mirip start balapan, kami langsung tancap gas berlomba memasuki jalur Puncak.

Kebun Raya Cibodas terletak di Cipanas, Cianjur. Tepatnya di daerah Cimacan. Jadi kalau anda menuju ke sana, pastikan tidak melewati kota Cipanas apalagi Istana Cipanasnya, karena sudah pasti itu kelewatan. Dan itu yang terjadi dengan kami.😦. Ini semua berkat papan penunjuk minim, ngirit GPS dan tentunya memori kami yang samar-samar.

Memasuki kawasan kebun raya, kami melewati pintu gerbang dengan beberapa petugas yang menyebut tarif retribusi dengan total Rp. 20.000,-. Nampak sebagai sebuah angka yang sangat murah, atau setara £1 saja. Begini rinciannya:

IMG_0885

Retribusi parkir mobil

IMG_0884

Retribusi mobil

IMG_0882

Retribusi pengunjung

Sampai di sini aman. Semua nampak normal dan masuk di akal. Begitu masuk ke dalam kami mendapati suasana begitu ramai dan sesak. Namun yang mengagetkan kami, ternyata mobil tidak boleh masuk kawasan kebun raya dan disuruh parkir di tempat. Jadi setiap weekend, mobil pribadi tidak bisa masuk kawasan kebun raya. Catat tuh. Akhirnya kami parkir di salah satu area dekat pintu 1. Coba tebak, kami kembali dikenakan tarif parkir, kali ini besarnya adalah …. jreng

IMG_0883

Tarif parkir kedua kami😥

Kami tidak mempermasalahkan besarnya. Bagaimana pun uang Rp. 10.000,- mungkin tidak lebih besar dari uang jajan anak-anak. Yang kami heran, kenapa bisa kena tarif parkir dua kali? Tapi kami masih berusaha memaklumi keheranan ini.

Memasuki kawasan kebun raya, kami kembali harus melewati pintu masuk (lagi) dan kali ini dikenakan biaya masuk per orang sebesar ….

IMG_0808[1]

Nah ini tarifnya, silahkan dibaca😀

Oke, mari lupakan keusilan kami atas remeh temeh ini. Jadi, sebetulnya mengunjungi kebun raya ini, anda akan berhubungan dengan (baca: membayar) setidaknya 3 ‘penguasa’: pertama pemda, kedua komunitas lokal dan ketiga pengelola kebun raya. Kami pun tidak bermaksud rewel dengan semua pembayaran berlapis ini. Tidak ada yang gratis di Indonesia. Mungkin yang perlu dilakukan oleh para pihak ini baik itu pemerintah setempat, pengelola kebun raya dan komunitas lokal untuk duduk bersama dan menata tiket dan perparkiran ini menjadi lebih elok (lah), misalnya satu pintu, kalau perlu online!.

Setelah dengan segala rintangan ini (exaggerating), tiba lah kami di dalam kebun raya, segera melupakan kelelahan fisik dan psikis ini dan bersiap menikmati menyantap makan siang yang hangat.

IMG_0814[1]

Pose jagoan neon

IMG_0855[1]

Salah satu sudut kebun raya

IMG_0861[1]

Pemandangan segar di dalam kebun raya

Oleh karena mobil tidak bisa masuk, maka kami menjelajah kebun dengan berjalan kaki. Sebenernya ada bis gandeng yang lalu lalang di dalam, namun kita di haruskan untuk menambah bayar, sekitar Rp. 8.000,- kalo tidak salah. Bagi yang tidak kuat napas, sangat dianjurkan untuk menggunakan jasa mobil ini. Percayalah, melelahkan!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s