A stereotyped world

Once I came across a video on Youtube telling me about stereotyping Australian, and what surprised me most, and I’ve never had any idea before were, that Australian was stereotyped “dumb”, “drunk”, and “racist”, those that never appear to my, at least, Australian friends I met somewhere else outside Australia. In fact I’ve never been in Australia, not even in a transit. The only amazed me about Australia (from internet so to speak), is probably the Opera Sydney house, where some of my friends arrogantly uploaded their pictures with it on social media. But recently I am a fan of reality show called “Australian border security” where the immigration officers have their stories told on TV/internet. Apart from those, I don’t give a crap.. 🙂

Let’s forget about this Oz stuff, I surfed the other typical stereotyping perspective on internet, and found many interesting facts, particularly when it comes to my homecountry, Indonesia, which is mostly stereotyped in similar way to those of other Asian countries. There are some exceptions, when the perspective comes from other nations, or particular individual. Hope you enjoyed what I have found.

s1

Screenshot of the video

Look what Australian think about Indonesia, and apparently they put “nasi goreng” in the first place. It’s a rather “civilized” anyway if you compare to what they think about other regions, e.g. Middle East and Africa which are quite harsh to me, war and famine? c’mon there must be something better and nice about them….

s2

This is what Americans think about us

 

Now, look what’s American think about us. Obama is a very quick eye-catching word, isn’t it, and it is exactly the word that explains Indonesia to common American’s minds. What about their own homeland? they said it’s awesome.. soo predictable, nothing else in this world would as awesome as them… they thought!!

s5

Something unthinkable, but nice

 

I found this picture from a web, and I didn’t read through the story, but the picture is actually interesting and talking itself. I like this one, not because my country is perceived a nice place for honeymoon, but the way they illustrate is so catchy, well done for a stereotyping job

s8

Alcoholic have a say

 

Frankly speaking, this is the worst stereotyping set I came across, not only because the drunk people have no brain (uppsss), but also the way the draw the map is so ugly, I would say…, but to be fair with them (the drunk), I think these stereotyping words are pretty much picturing the reality of some parts of this world.. too bad huh

s9

This is a kind of stereotyping by the ignorant, where they see the world from a very small window and narrow minded, steered by mainstream media, and never read a single book but drink alcoholic stuff.., everything is only for fun when you’re drunk, right guys?

Anyway, if you found your country stereotyped, my advice is, don’t take it seriously, nothing serious about it. There are a lot more pictures actually, but I don’t wanna comment on them, you can also find them easily on google. Those pictures’ copyrights belong to the original owner.. not me. I don’t make any money from those, just wanna share for fun 🙂

 

Dokter gigi di Inggris dan Indonesia sama mahalnya

Siapa sih yang gak pernah sakit gigi? mungkin hanya sedikit dari kita yang tidak pernah ketemu dokter gigi sekalipun sepanjang hidupnya, tidak terkecuali zerosugar. Pengalaman berobat ke dokter gigi di Indonesia (tentunya) dan di Inggris memberikan wawasan mengenai perbedaan yang cukup kentara, baik dari sisi pelayanan, harga yang harus dibayar maupun kualitas yang didapatkan. Berikut ini perbedaan yang teramati berdasarkan pengalaman pribadi.

Dari sisi pelayanan, dokter gigi di Inggris tidak bisa ditemui kapan saja sesuka hati, karena kita harus membuat appointment atau janji terlebih dahulu. Sebetulnya di Indonesia pun, sistem ini juga banyak dipakai, terutama untuk dokter yang nilai jualnya tinggi alias banyak pasiennya. Kalau masalah appointment bukan perbedaan mencolok, maka yang menarik adalah dokter gigi di Inggris tidak akan menanyakan anda mau tambal atau cabut, melainkan akan serta merta memeriksa seluruh kesehatan gigi kita dengan mendokumentasikannya satu persatu dalam rekam medis kita, lalu akan menentukan jadwal untuk penanganannya. Untuk penambalan satu gigi saja kita bisa bertemu dokter setidaknya tiga kali, belum termasuk pengecekan akhir dan penentuan jadwal untuk pemerikksaan ulang 6 bulan setelahnya. Padahal dii Indonesia, kita bisa datang ke dokter gigi dan by request  bilang, Dok, saya mau tambal gigi geraham saya yang sebelah kanan, titik. Penambalan dilakukan saat itu juga dan selesai. Perbedaan pelayanan kesehatan (secara umum) yang lebih kontras pernah diulas di sini.

Mengenai harga, pelayanan kesehatan di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan luar. Kenapa relatif? karena kalau dilihat dari kemampuan atau daya jangkau masyarakat, pada akhirnya sebenarnya sama-sama mahal. Selama tinggal di Inggris, zerosugar harus bolak balik ke dokter gigi karena banyak bolongnya. Berapa harga yang harus dibayar? karena tidak ditangguung asuransi, maka untuk pelayanan tambal gigi saja, zerosugar harus merogoh kocek sampai £70 atau sekitar Rp 1,3j. Cukup besar bukan? Bandingkan dengan pelayanan gigi di RS UIN Ciputat, misalnya, yang mematok harga sekitar Rp 250rb an. Itupun masih mahal untuk ukuran kocek kebanyakan orang Indonesia. Kesehatan memang mahal ya.

Sedangkan untuk kualitas, sejujurnya harus saya bilang kualitas dokter gigi kita tidak berbeda dengan mereka yang di Inggris. Peralatan maupun tingkat keahlian sepertinya sama saja. Tambalan gigi saya yang dibuat di Inggris toh rontok juga beberapa waktu kemudian, walaupun ada jaminan garansi untuk ditambal kembali.

Akhirnya, merawat gigi memang harus selalu kita lakukan dengan rajin. Kecuali anda memang siap dengan sakitnya yang luar biasa.

Stay healthy

Daftar Beasiswa Dalam dan Luar Negeri

383829_2190541212963_1058012107_n

Mahasiswa internasional di ICU Tokyo, 2003 – 2005

Gambar di atas adalah pose (kurang lebih) 10 tahun silam, semasa masih kuliah di Tokyo. Ini hanya sebagai bentuk motivasi bagi para pencari beasiswa. Berikut di bawah ini adalah beberapa link beasiswa (populer) untuk tujuan dalam dan luar negeri yang (biasanya) juga mencakup biaya hidup, asuransi dll.

  1. Jepang – Monbukagakusho
  2. Australia – Ausaid
  3. Amerika – Pestasi USAID
  4. Inggris – Chevening
  5. Belanda – Stuned
  6. Jerman – DAAD
  7. World Bank
  8. ADB – Japan Scholarship Program
  9. IDB Scholarship Programmes
  10. Beasiswa PPSDM
  11. Beasiswa LPDP
  12. Beasiswa DIKTI
  13. Beasiswa Kominfo
  14. Beasiswa Sampoerna Foundation
  15. Beasiswa Djarum

Beberapa negara seperti Finlandia, Swedia, Rusia, Jerman, dan Mesir membebaskan biaya kuliah 100%, yang berlaku juga untuk para pelajar internasional. Tetapi biaya hidup (living cost) tetap menjadi tanggungan pelajar. Jadi pastikan beasiswa yang anda pilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anda.

Indonesiana: antara Sukhoi, Bakso Babi dan Ferari

Ketika Sukhoi  Superjet S 100 mengalami kecelakaan di Gunung Salak pertengahan 2012 lalu, banyak pihak yang merasa yakin bahwa masa depan Sukhoi di industri pesawat sipil telah tamat. Setidaknya pemesanan pesawat tersebut oleh beberapa maskapai penerbangan akan terganggu. Publik juga sudah pasti akan terusik dan merasa takut untuk menggunakan jasa pesawat tersebut. Nyatanya pemesanan pesawat tersebut terus dilakukan, dan maskapai pemesan juga merasa yakin dengan keamanan pesawat itu setelah ada penjelasan dari KNKT. Terlepas bahwa ini adalah human error atau bukan, mungkin maskapai ini berharap seiring dengan waktu memori publik akan kembali macet dan melupakan sejarah kelabu dari joyflight dari pesawat ini.

Masih di sekitar Jakarta, pada awal tahun baru 2013, bakso (oplosan) babi juga menjadi isu yang memukul industri bakso dan penjual bakso keliling di seantero Jakarta. Kali ini imbasnya sangat cepat dan mengenai pelaku ekonomi kecil seperti penjual bakso keliling dan industri bakso rumahan. Sampai-sampai Jokowi dan Ahok harus secara demonstratif jajan bakso untuk menggugah publik agar kembali jajan bakso.

Minggu lalu pun, publik kembali dikagetkan dengan Pak Dahlan Iskan yang mengalami kecelakaan rem blong dengan mobil ’Ferari’ a la Magetan yang kebetulan masih prototype. Dengan nilai jual sekitar Rp 1,5 milyar, tentu mobil ini diasumsikan mempunyai kelebihan dan kualitas yang setara dengan harga jualnya. Sudah pasti, kecelakaan ini juga akan membuat publik meragukan keamanan dari mobil super ini. Dan imbasnya masa depan pabrikasi dan penjualan ini menjadi dipertanyakan. Setidaknya hingga hari ini. Terlepas dari kontroversi otak-atik rem dan water pump tanpa seijin pabriknya, Pak Dahlan sendiri tetap menyatakan bahwa mobil itu akan terus diproduksi.

Dari tiga contoh kejadian tersebut, sikap publik secara umum bisa ditebak bahwa mereka akan berpikir seribu kali sebelum menggunakan jasa maskapai yang menggunakan pesawat Sukhoi tersebut, atau mereka bisa jadi akan mengurangi kebiasaan konsumsi bakso mereka, atau akan berulang kali mengkaji apabila hendak benar-benar membeli mobil ’Ferari’ seharga milyaran tersebut.

Lalu bagaimana Sukhoi, bakso (non) babi maupun ’Ferari’ ini bisa menggapai keberhasilan dalam menembus pasar? Jawaban singkatnya mereka sangat membutuhkan kekuatan marketing (dan media tentunya) serta ’berharap’ pada sang waktu dalam menghapus memori publik yang terbukti rapuh dan mudah termanipulasi. Mengapa marketing? Karena dengan strategi marketing yang tepat, sebuah barang yang bermutu atau bercitra jelek bisa menjadi begitu bernilai ketika berhasil melakukan penetrasi pasar. Sementara media berperan penting untuk terus merecoki publik dengan pemberitaan dan informasi yang sesuai dengan pesanan di belakangnya. Politik dan kekuasaan, misalnya, bisa menjadi faktor pendorong atau stimulan agar pasar bisa goyah. Peran Jokowi dan Ahok untuk meyakinkan publik bahwa kasus bakso babi hanyalah kasus minor tentu turut berpengaruh, walaupun media bisa menjadi aktor yang lebih kuat dalam mempengaruhi publik dan mengganggu pasar bakso. Di sisi lain, dimensi waktu adalah strategi bagaimana memanfaatkan momen di mana publik sedang ’lengah’ yang pada akhirnya kembali menerima produk tersebut.

Jadi di awal tahun 2013 ini kita akan nantikan, apakah Sukhoi, bakso dan ’Ferari’  ini bisa kembali memanfaatkan kekuatan marketing, media dan waktu mereka untuk menggoda pasar, dan pada akhirnya semua kembali pada karakteristik konsumen kita yang mudah-mudahan lebih kritis, cerdas dan teliti dalam membeli produk.

Ayo kritis dalam membeli… 🙂

Malioboro

Perjalanan ke Jogja kali ini terasa lebih istimewa dari biasanya. Alasan pertama karena ini adalah perjalanan keluarga paling jauh kedua yang dilakukan, setelah sebelumnya di tahun 2004 yaitu penerbangan  7 jam dari Jakarta menuju Tokyo (weew.. uncomparable gitu kok). Alasan kedua karena tiket yang dibayar hanya separuh perjalanan, sisanya berupa award ticket dari GFF. Thanks to Garuda, tahun ini zerosugar tercatat sebagai pemegang GFF Gold, yang berarti punya beberapa kelebihan dibanding level membership di bawahnya, misalnya gratis menikmati fasilitas Garuda Executive Lounge di seluruh bandara yang zerosugar hinggapi, hingga tambahan bagasi 15 kiloan.

Walau demikian, zerosugar mencoba untuk menghemat ongkos seefisien mungkin, dengan tidak mengorbankan kenyamanan, tentunya. Setelah sebelumnya browsing, ternyata banyak pilihan moda transportasi yang harganya lumayan “miring” untuk ukuran Jakarta. Dari Bandara Adi Sucipto, kita bisa memilih minimal 4 jenis transportasi. Taksi bandara yang dikelola koperasi, letaknya persis di sebelah kanan setelah pintu keluar, menawarkan harga tetap 50rb untuk perjalanan ke Malioboro. Kalau mau lebih murah, bisa jalan sedikit keluar, dan menyewa taksi yang berargo (mereka menyebutnya taksi meter), dengan biaya sekitar 35 – 40 ribu, tergantung tingkat kemacetan. Nah bagi backpacker, yang lebih praktis dan tidak terlalu pusing dengan barang bawaan bisa lebih murah lagi, dengan pilihan bis Trans Yogya, haltenya ada di ujung Terminal, kalau bingung tanya saja sama porter atau orang di sekitar. Pasti ditunjukin kok, kalau enggak, berarti ada yang salah dengan “pronounciation” anda, hehehe. Ambil jurusan Malioboro (1A), dan bayar dengan hanya Rp. 3.000,- saja untuk setiap orang. Murah sekali kan? It takes about 1 hour lah. Zerosugar sendiri akhirnya memilih moda yang pertama, berhubung “riweuh” bawa keluarga dan barang bawaan yang agak banyak. Moda lainnya adalah becak, kalau yang ini agak susah kayaknya, karena sangat tergantung dengan minimnya jarak tempuh dan tentunya nilai kemanusiaan anda.

Hotel atau tempat menginap, juga harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Terutama menjelang peak season, hotel di Jogja biasanya sudah penuh. Kecuali kalau anda tidak mementingkan kenyamanan, banyal bertebaran hotel kelas melati sampai dengan losmen, yang menawarkan harga di kisaran 30 – 70 ribu per malam. Dan mungkin tanpa perlu reservasi terlebih dahulu.

Zerosugar sendiri memilih Hotel Mutiara yang letaknya persis di Jalan Malioboro, dekat halte Trans Yogya (Kepatihan). Lokasinya bersebelahan dengan kantor Gubernur DIY. Alasan utamanya, karena tinggal hotel ini yang tersedia (waktu itu sedang peak season). Fasilitas hotel untuk kamar Superior seharga 650rb per malam lumayan lengkap, dengan catatan kecil, sepertinya breakfastnya kurang bervariasi. Nilai plusnya, pilihan ini sedikit meringankan zerosugar dan keluarga, seperti misalnya untuk jalan sepanjang Malioboro, atau ke Pasar Beringharjo, sangat walkable.

Tujuan wisata di Jogja sudah pasti sangat banyak. Mau wisata kuliner khas Jogja, atau sekedar jalan-jalan di tempat-tempat bersejarah. Kalau berminat dengan kuliner Jogja, dari Malioboro, anda bisa minta antar abang atau mas becak ke sentra Gudeg Wijilan yang letaknya bersebelahan dengan alun-alun utara. Dengan harga yang sangat terjangkau dari mulai 7.000 rupiah untuk sepiring nasi gudeg tahu dan krecek, sampai yang seharga 25rb atau lebih, dengan variasi ayam, telor dsb. Sambil makan, bisa ditemani dengan alunan musik keroncong oleh sekelompok orang tua yang menyanyi dengan merdunya (jangan lupa kasih tips untuk menghormatinya). Wiata kuliner lainnya sepanjang Malioboro sudah jelas banyak pilihan, dari mulai masakan seafood, gudeg, nasi goreng, martabak, sampai makanan barat. Jadi tidak usah khawatir dengan selera teman perjalanan yang berbeda-beda.

Nah untuk wisata sejarah, Jogja jelas tujuan yang tepat. Minimal anda bisa mengunjungi kompleks keraton (dan alun-alunnya), atau ke Prambanan, dengan hanya menumpang Trans Yogya jurusan 1A (sekitar 3/4 jam) atau ke Borobudur dengan menuju Terminal jombor terlebih dahulu, sebelum pindah ke Bis yang menuju ke sana. Well, kalau bosan dengan situs-situs jaman baheula, untuk anak-anak malah ada Taman Pintar yang letaknya dekat dengan Malioboro (ada halte Trans Yogya).

Begitulah kira-kira cerita perjalanan ke jogja yang lumayan menyenangkan.  Jangan lupa beli oleh-oleh, minimal bakpia khas Jogja. Kalau mengenai merek sangat relatif, yang terkenal ada bakpia Kurnia Sari, 25, 75, mungkin sebentar lagi 125.  Zerosugar tidak merekomendasikan merek tertentu, nanti dikira dapet komisi lagi :). Have a nice trip deh bagi yang berminat.

Sebuah Catatan Perjalanan ke Kalsel

Dalam penerbangan ke Banjarmasin kali ini, zerosugar mengamati mayoritas penumpang ternyata berpakaian gamis. Dengan atribut yang khas timur tengah, nampaknya mereka adalah penduduk Kalsel yang baru pulang menunaikan ibadah umrah.

Sejenak zerosugar kemudian berpikir, sepertinya orang-orang ini tergolong kelompok berada juga, yang mempunyai tingkat kemapanan ekonomi di atas rata-rata kelas pekerja di Jakarta dan sekitarnya. Paling tidak dari indikasi kemampuan mereka berangkat umrah sekeluarga, bahkan dengan anak-anak mereka yang masih kecil–sebuah mimpi penulis yang belum mungkin terwujud dalam waktu dekat.

Asumsi bahwa mereka termasuk golongan berada semakin menguat ketika zerosugar mengunjungi Martapura (untuk kesekian kalinya), dan melihat bahwa mata pencaharian yang populer adalah berdagang, terutama mutiara dan berbagai perhiasan.

Namun setelah melakukan obrolan ringan dengan penduduk setempat, ternyata dasar asumsi ini mulai melemah, karena kenyataannya menurut yang bersangkutan, penduduk Kalsel pada umumnya tidak semapan yang zerosugar kira. Bahkan para penumpang yang penulis saksikan di pesawat (menurutnya) sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan petani (yang tidak tergolong petani kaya). Bahkan sebagian besar dari mereka adalah termasuk masyarakat yang biasa-biasa saja secara ekonomi.

Lebih lanjut menurut dia, bagi masyarakat Kalsel, menunaikan ibadah umrah apalagi haji merupakan sebuah kehormatan keluarga. Terlepas dari derajat kewajiban dan nilai religius yang diyakini, status sosial ternyata menjadi sebuah alasan penting mengapa mereka memaksakan diri untuk tetap berangkat umrah, walaupun dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Kehormatan keluarga, keyakinan pada nilai-nilai agama, dan keinginan meneruskan tradisi leluhur menjadi pendorong utama mengapa mereka mau mengorbankan harta produktifnya untuk melakukan perjalanan mahal tersebut.

Bukan untuk mencermati atau mengkritisi dari perspektif kesejahteraan dan ekonomi keluarga, karena dalam hitung-hitungan ekonomi tentunya ini sesuatu yang kontra-produktif, tetapi bagi zerosugar yang paling penting adalah bahwa ini merupakan sebuah bentuk nilai dan kearifan lokal yang hanya bisa dipahami dalam konteks sosiologis. Keyakinan masyarakat akan pentingnya menunaikan umrah atau haji sekeluarga menjadikan masyarakat Kalsel menjadi sangat “boros” secara ekonomi tetapi sangat “luhur” secara nilai, karena tradisinya terjaga. Sebuah keyakinan yang sebenarnya patut kita apresiasi.

Di tengah hiruk pikuk media massa yang memuat berita tawuran yang ternyata dilakukan tidak hanya oleh kelompok yang merasa terpelajar seperti mahasiswa, tetapi juga antar kelompok warga, seperti di beberapa sudut kota Jakarta, Ambon dan kota-kota lainnya,bagi penulis ini merupakan sebuah berita yang menyenangkan. Ternyata kearifan lokal bangsa ini bukan cuma tawuran, tetapi juga seperti apa yang dilakukan dan ditradisikan oleh kebanyakan masyarakat Kalsel.

Dalam workshop global governance di Banjarmasin, zerosugar mendapat pertanyaan peserta tentang penguatan peran negara atau penguatan masyarakat. Zerosugar mencoba merespon bahwa penulis termasuk yang meyakini bahwa setiap jaman mempunyai nilai dan kearifannya masing-masing. Ada masa ketika peran negara harus kuat ketika masyarakat lemah atau tidak berdaya. Pada saat masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk hidup dan berkembang, maka kehadiran negara menjadi sebuah keniscayaan untuk menjamin kehidupan masyarakat dengan standar-standar yang disepakati. Tetapi ketika msayarakat sudah berdaya dan mampu berdiri secara mandiri, sebaiknya peran negara dikurangi dalam pengertian tidak lagi dominan dan menjadi pemain juga, tetapi cukup dalam porsi-porsi pengawasan, pengendalian mutu, atau  penetapan standar-standar dsb.

Nah, konteks yang relevan bagi zerosugar adalah juga termasuk bagaimana memahami tradisi dan kearifan lokal masyarakat yang harus mampu mengimbangi tuntutan dan arus jaman. Bagaimana pula nilai dan kearifan lokal ini tidak berbenturan terlalu konfrontatif dengan keberadaan negara. Bagaimana negara bisa meresponnya dan memastikan optimalisasi situasi kelokalan ini untuk kemanfaatan sebesar-besarnya. Wallahualam.

Macet, like it, be part of it, bcoz you have no choice for the time being

Sore itu kendaran merayapi Thamrin Sudirman seperti biasa, rush hour lah. Jakarta dengan segala bentuk kemacetannya sudah menjadi rutinitas keseharian yang “anehnya” sangat ditolerir oleh warganya. Well, diskusi tentang kemacetan tidak akan ada habisnya. Akar masalahnya sudah jelas, selain volume kendaraan yang terus meningkat, kapasitas infrastruktur jalan yang tidak memadai, perilaku pengendara yang tidak disiplin, sampai kebijakan yang tidak bertaji. Segudang akar masalah itu seperti benang kusut yang tidak pernah diurai oleh pengambil keputusan. Entah apa yang ada di benak para pimpinan itu.

Foto ini diambil dengan kamera HP biasa, jadi jangan berharap kualitas gambar yang baik, tetapi mari perhatikan kualitas pesan yang ingin disampaikan. Siapapun yang merasa menjadi bagian dari persoalan kemacetan ini harus mulai berfikir. Apa kontribusi dan peran yang bisa dimainkan oleh masing-masing untuk mengatasi persoalan ini?. Para pemilik kendaraan, sudikah anda beralih ke transportasi publik? jawabannya bisa saja Ya, dengan catatan kalau moda transportasi tersebut mampu memberikan kenyamanan, kemananan, kemudahan, ketepatan waktu, dan tentunya harga yang rasional. Kalau tidak bisa menawarkan seperti itu, ya jangan harap mereka mau berpindah.

Padahal, menurut satu sumber (bisnis Indonesia), rasio kepemilikan mobil di Indonesia saat ini sebesar 1;7, masih lebih rendah dibandingkan dengan Thailand maupun Malaysia dimana perbandingan pemilik mobil dengan jumlah penduduk di negara setempat sudah mencapai 1;3. Sumber lain menyebutkan setiap 1000 orang Indonesia, terdapat 26 – 30 pemilik kendaraan. Oke lah terdapat perbedaan data statistik. Toh selama ini kita juga belum mampu menghitung secara akurat jumlah penduduk kita. 🙂

Ini baru cerita kemacetan ibukota. Sebuah ironi muncul ketika Harian Kompas hari ini memuat tulisan tentang propinsi penghasil aspal, yang jalanannya justru tidak beraspal!. Ceritanya sebuah truk ingin mencapai sebuah kecamatan yang berjarak 20 km, harus menempuh perjalanan selama 14 hari!!!. Bayangkan apa yang bisa anda lakukan selama 14 hari dengan kegiatan produktif. Cerita ini seakan mengerdilkan ocehan dan omelan pengendara mobil di Jakarta yang harus menempuh jarak yang sama hanya dengan waktu tempuh 2 jam saja. It’s obviously uncomparable. But still, this is an unbelievable story, for the country which has been enjoying independence for more than 6 decades. Where have they been anyway??.

Cerita lain tentang kemacetan bukan hanya monopoli Indonesia (Jakarta, bandung dan kota-kota lainnya). Di China pernah tercatat terjadi kemacetan yang menghabiskan waktu hampir 9 hari, sebuah rekor yang tentunya tidak patut ditiru.

Lain lagi di Jepang, negara yang baru luluh lantak akibat gempa dan tsunami, yang notabene negara produsen otomotif utama dunia, tingkat kemacetan sangat rendah. Bukan karena tidak ada mobil berkeliaran di jalanan. Hal ini karena kapasitas infrastruktur jalan sangat-sangat memadai, yang mampu menampung volume kendaraan yang begitu banyak. Tetapi tinggalkan dulu alasan kapasitas infrastruktur ini. Ternyata perilaku warga Jepang juga tidak konsumtif. Tidak setiap keluarga Jepang mempunyai kendaraan bermotor. Kebanyakan dari mereka lebih suka bersepeda, dan menggunakan kereta untuk bepergian. Salah satu alasannya karena tarif parkir yang dibuat mahal. Sayangnya orang kita kalau dikasih tarif parkir yang mahal, malah mengadu ke pengadilan.

Tetangga  kita Singapura, tidak pernah terdengar cerita kemacetan yang parah. Kecuali karena banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di kawasan orchard dan sekitarnya. Pemerintahnya memberlakukan kebijakan pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor, dengan strategi pembebanan fiskal dan bunga kredit yang sangat tinggi, serta pembatasan usia kendaraan.

Bagaimana dengan kita? Dengan kondisi pendapatan per kapita Indonesia  pada 2010 saja tercatat mencapai Rp 27 juta atau setara dengan 3.004,9 dollar AS. Angka ini naik sekitar 13 persen bila dibandingkan pada 2009 lalu yang mencapai Rp 23,9 juta atau setara 2.349,6 dollar AS (Kompas). Ini menunjukkan trend orang-orang Indonesia yang semakin kaya (walaupun di wilayah tertentu saja). Walaupun masih tidak sebanding dengan tingkat perkapita tetanggga kita seperti Malaysia, Thailand, apalagi Singapura. Ini masih berita bagus sekaligus berita buruk. Sebuah prestasi bagi pembangunan kesejahteraan. Tetapi jika menilik perilaku masyarakat yang “pada dasarnya” sangat konsumtif, uang-uang itu bisa dipastikan akan dibelanjakan untuk barang-barang yang sebetulnya tidak perlu, yang salah satunya adalah belanja otomotif. 😦

Eventually bisa dipastikan kalau kemacetan akan semakin menghiasi detik-detik hidup kita (bukan satuan hari lagi!!). Jakarta akan mengalami kemacetan total tahun 2012, kata banyak sumber. Semua data dan fakta mengarah ke sana. Masih berminat ke Jakarta? 😉